<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!-- generator="Joomla! - Open Source Content Management" -->
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom"  xml:lang="en-gb">
	<title type="text">Artikel Renungan</title>
	<subtitle type="text">paroki serpong santa monika</subtitle>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org"/>
	<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan</id>
	<updated>2025-07-23T18:20:25+07:00</updated>
	<author>
		<name>Admin Website Paroki Serpong St. Monika</name>
		<email>parokisantamonika@gmail.com</email>
	</author>
	<generator uri="http://joomla.org">Joomla! - Open Source Content Management</generator>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan?format=feed&amp;type=atom"/>
	<entry>
		<title>MELAYANI DAN MENDENGARKAN</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5376-melayani-dan-mendengarkan"/>
		<published>2025-07-19T15:06:01+07:00</published>
		<updated>2025-07-19T15:06:01+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5376-melayani-dan-mendengarkan</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kej. 18:1-10a; Bacaan II : Kol. 1:24-28&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Luk. 10:38-42&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;MELAYANI DAN MENDENGARKAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang Yesus yang datang ke rumah dua saudari Marta dan Maria. Ketika Yesus tiba Marta langsung sibuk menyiapkan makanan dan beres-beres rumah. Sementara Maria malah duduk dekat Yesus dan mendengarkan Dia bicara. Perilaku Maria ini membuat Marta menjadi kesal karena dia harus mengerjakan semua pekerjaannya sendiri. Marta berharap Maria mempunyai tenggang rasa untuk membantunya. Rupanya Maria tak kunjung membantu Marta sehingga dia meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantu saudarinya itu. Tapi Yesus menjawab dengan lembut: “Marta, Marta kamu khawatir dan repot dengan banyak hal. Padahal cuma satu yang penting. Maria sudah memilih yang terbaik dan itu tidak akan diambil darinya.” (Luk 10:41-42). Yesus bukannya menyalahkan Marta. Tapi Dia ingin mengingatkan bahwa Marta terlalu sibuk sampai lupa duduk dan mendengarkan dulu. Maria memilih untuk tenang dan mendengarkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Melayani tamu dengan baik adalah sikap dari seorang tuan rumah yang bijaksana. Dalam bacaan pertama Abraham menyambut tiga orang tamu dan menyiapkan makanan, air dan tempat istirahat. Dia melakukannya dengan senang hati. Ternyata tamu-tamu itu adalah utusan Tuhan yang menyampaikan kabar baik bahwa tahun depan Sara akan melahirkan anak laki-laki.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di bacaan kedua Rasul Paulus yang menulis suratnya dari penjara mengatakan sukacitanya dalam memberitakan Kristus. Paulus menyebutkan dirinya sebagai pelayan jemaat yang meneruskan firman-Nya kepada mereka (Kol 1:25)&lt;br /&gt;Dari ketiga bacaan ini kita bisa belajar bahwa mendengarkan dan melayani itu bukan hal yang bertentangan justru saling melengkapi. Marta dan Abraham menunjukkan kasih lewat tindakan dan pelayanan. Maria menunjukkan kasih lewat hati yang terbuka dan siap mendengarkan Tuhan. Sementara bagi Paulus penderitaan bukanlah penghalang untuk mewartakan firman Allah dan itu dilakukannya dengan sukacita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Melayani sama pentingnya dengan mendengarkan firman Allah. Mendengarkan Dia lewat doa, membaca Kitab Suci atau hening sejenak dan lakukanlah itu dengan sukacita. Seperti Abraham yang diberkati karena hatinya terbuka untuk melayani dan Maria yang dipuji karena pilihannya mendengarkan Tuhan, maka kita juga akan diberkati kalau bisa punya hati yang mau mendengarkan dan tangan yang siap melayani.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[SHT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kej. 18:1-10a; Bacaan II : Kol. 1:24-28&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Luk. 10:38-42&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;MELAYANI DAN MENDENGARKAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang Yesus yang datang ke rumah dua saudari Marta dan Maria. Ketika Yesus tiba Marta langsung sibuk menyiapkan makanan dan beres-beres rumah. Sementara Maria malah duduk dekat Yesus dan mendengarkan Dia bicara. Perilaku Maria ini membuat Marta menjadi kesal karena dia harus mengerjakan semua pekerjaannya sendiri. Marta berharap Maria mempunyai tenggang rasa untuk membantunya. Rupanya Maria tak kunjung membantu Marta sehingga dia meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantu saudarinya itu. Tapi Yesus menjawab dengan lembut: “Marta, Marta kamu khawatir dan repot dengan banyak hal. Padahal cuma satu yang penting. Maria sudah memilih yang terbaik dan itu tidak akan diambil darinya.” (Luk 10:41-42). Yesus bukannya menyalahkan Marta. Tapi Dia ingin mengingatkan bahwa Marta terlalu sibuk sampai lupa duduk dan mendengarkan dulu. Maria memilih untuk tenang dan mendengarkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Melayani tamu dengan baik adalah sikap dari seorang tuan rumah yang bijaksana. Dalam bacaan pertama Abraham menyambut tiga orang tamu dan menyiapkan makanan, air dan tempat istirahat. Dia melakukannya dengan senang hati. Ternyata tamu-tamu itu adalah utusan Tuhan yang menyampaikan kabar baik bahwa tahun depan Sara akan melahirkan anak laki-laki.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di bacaan kedua Rasul Paulus yang menulis suratnya dari penjara mengatakan sukacitanya dalam memberitakan Kristus. Paulus menyebutkan dirinya sebagai pelayan jemaat yang meneruskan firman-Nya kepada mereka (Kol 1:25)&lt;br /&gt;Dari ketiga bacaan ini kita bisa belajar bahwa mendengarkan dan melayani itu bukan hal yang bertentangan justru saling melengkapi. Marta dan Abraham menunjukkan kasih lewat tindakan dan pelayanan. Maria menunjukkan kasih lewat hati yang terbuka dan siap mendengarkan Tuhan. Sementara bagi Paulus penderitaan bukanlah penghalang untuk mewartakan firman Allah dan itu dilakukannya dengan sukacita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Melayani sama pentingnya dengan mendengarkan firman Allah. Mendengarkan Dia lewat doa, membaca Kitab Suci atau hening sejenak dan lakukanlah itu dengan sukacita. Seperti Abraham yang diberkati karena hatinya terbuka untuk melayani dan Maria yang dipuji karena pilihannya mendengarkan Tuhan, maka kita juga akan diberkati kalau bisa punya hati yang mau mendengarkan dan tangan yang siap melayani.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[SHT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Renungan" />
	</entry>
	<entry>
		<title>IBADAH YANG SEJATI</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5374-ibadah-yang-sejati"/>
		<published>2025-07-12T13:12:50+07:00</published>
		<updated>2025-07-12T13:12:50+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5374-ibadah-yang-sejati</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Ul. 30:10-14; Bacaan II : Kol. 1:15-20&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Luk. 10:25-37&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;IBADAH YANG SEJATI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Diawali dengan kisah seorang ahli Taurat yang menanyakan syarat untuk memperoleh hidup kekal kepada Yesus. Membaca alur cerita Lukas, sepertinya ahli Taurat ini sudah menduga apa yang akan Yesus katakan. Tetapi yang menjadi persoalan bagi si ahli Taurat adalah pertanyaan keduanya “Lalu siapakah sesamaku manusia?” [10:29].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk menjawab pertanyaan ini Yesus kemudian menceritakan sebuah perumpamaan. Yesus menggunakan subyek dua orang Yahudi [orang Lewi dan imam] dan orang Samaria. Ketiga orang tersebut dibenturkan pada satu masalah yang sama, yaitu menolong orang yang sekarat akibat diserang perampok. Ternyata dari ketiga orang itu terdapat sikap yang berbeda terhadap si kurban. Baik imam maupun orang Lewi, menghindar dari si kurban. Orang Samaria justru mau membantu dengan totalitas ketulusan kasihnya. Mulai dari menolong, merawat kurban di jalan, menaikkannya ke keledainya dan kemudian membawa ke penginapan. Sampai di sana, dia masih merawatnya lagi dan keesokan harinya dia menitipkan uang dan pesan kepada pemilik penginapan untuk merawat orang yang malang ini [10:33-35].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Orang Yahudi dan orang Samaria memiliki sejarah permusuhan yang panjang. Perumpamaan ini tentu tidak dimaksudkan agar permusuhan menjadi lebih dalam namun pesan yang ingin disampaikan adalah tindakan kasih merupakan ibadah yang sejati. Orang Lewi dan imam mungkin terkendala dengan ibadah yang akan mereka lakukan karena ada larangan mengenai kenajisan jika bersentuhan dengan mayat sehingga mereka lebih mementingkan ibadah yang bersifat ritual. Namun perintah pada hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama [Luk 10:27]. Karena itu Yesus mengakhiri cerita dengan bertanya kepada ahli Taurat “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, menjadi sesama manusia bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi orang Israel mematuhi perintah TUHAN adalah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hal ini disampaikan oleh Musa kepada generasi yang akan memasuki tanah terjanji [Ul 30:10-14]. Firman itu ada di mulut dan di hati mereka untuk dilakukan. Demikian pula bagi para pengikut Kristus, mematuhi perintah-Nya sama dengan mematuhi perintah Allah, karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia [Kol 1:19].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Penutup dari kisah orang Samaria yang murah hati ini bukan hanya perintah bagi si ahli Taurat saja, melainkan bagi kita para pengikut Kristus. Mari kita mengasihi sesama dengan tulus hati karena Tuhan lebih berkenan dengan hati yang peduli daripada ritual tanpa isi.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[CT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Ul. 30:10-14; Bacaan II : Kol. 1:15-20&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Luk. 10:25-37&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;IBADAH YANG SEJATI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Diawali dengan kisah seorang ahli Taurat yang menanyakan syarat untuk memperoleh hidup kekal kepada Yesus. Membaca alur cerita Lukas, sepertinya ahli Taurat ini sudah menduga apa yang akan Yesus katakan. Tetapi yang menjadi persoalan bagi si ahli Taurat adalah pertanyaan keduanya “Lalu siapakah sesamaku manusia?” [10:29].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk menjawab pertanyaan ini Yesus kemudian menceritakan sebuah perumpamaan. Yesus menggunakan subyek dua orang Yahudi [orang Lewi dan imam] dan orang Samaria. Ketiga orang tersebut dibenturkan pada satu masalah yang sama, yaitu menolong orang yang sekarat akibat diserang perampok. Ternyata dari ketiga orang itu terdapat sikap yang berbeda terhadap si kurban. Baik imam maupun orang Lewi, menghindar dari si kurban. Orang Samaria justru mau membantu dengan totalitas ketulusan kasihnya. Mulai dari menolong, merawat kurban di jalan, menaikkannya ke keledainya dan kemudian membawa ke penginapan. Sampai di sana, dia masih merawatnya lagi dan keesokan harinya dia menitipkan uang dan pesan kepada pemilik penginapan untuk merawat orang yang malang ini [10:33-35].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Orang Yahudi dan orang Samaria memiliki sejarah permusuhan yang panjang. Perumpamaan ini tentu tidak dimaksudkan agar permusuhan menjadi lebih dalam namun pesan yang ingin disampaikan adalah tindakan kasih merupakan ibadah yang sejati. Orang Lewi dan imam mungkin terkendala dengan ibadah yang akan mereka lakukan karena ada larangan mengenai kenajisan jika bersentuhan dengan mayat sehingga mereka lebih mementingkan ibadah yang bersifat ritual. Namun perintah pada hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama [Luk 10:27]. Karena itu Yesus mengakhiri cerita dengan bertanya kepada ahli Taurat “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, menjadi sesama manusia bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi orang Israel mematuhi perintah TUHAN adalah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hal ini disampaikan oleh Musa kepada generasi yang akan memasuki tanah terjanji [Ul 30:10-14]. Firman itu ada di mulut dan di hati mereka untuk dilakukan. Demikian pula bagi para pengikut Kristus, mematuhi perintah-Nya sama dengan mematuhi perintah Allah, karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia [Kol 1:19].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Penutup dari kisah orang Samaria yang murah hati ini bukan hanya perintah bagi si ahli Taurat saja, melainkan bagi kita para pengikut Kristus. Mari kita mengasihi sesama dengan tulus hati karena Tuhan lebih berkenan dengan hati yang peduli daripada ritual tanpa isi.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[CT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Renungan" />
	</entry>
	<entry>
		<title>MENJADI CIPTAAN BARU</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5372-menjadi-ciptaan-baru"/>
		<published>2025-07-05T13:54:24+07:00</published>
		<updated>2025-07-05T13:54:24+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5372-menjadi-ciptaan-baru</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Yes. 66:10-14c; Bacaan II : Gal. 6:14-18&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Luk. 10:1-12,17-20.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;MENJADI CIPTAAN BARU&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang perempuan paruh baya bernama Maria. Ia dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih, meski hidupnya tidak mudah. Suaminya telah lama meninggal, dan anak semata wayangnya bertugas jauh. Namun, Maria yang mantan perawat senior, tetap menjadi sumber penghiburan bagi banyak orang di desanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setiap pagi, Maria duduk di teras rumahnya, membaca Kitab Suci. Suatu hari, ia membaca dari Yesaya 66:13, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem”. Maria merasa Tuhan sedang berbicara langsung kepadanya; bahwa meski ia sendiri, ia tidak pernah ditinggalkan. Yerusalem yang digambarkan sebagai tempat di mana dia akan mendapatkan penghiburan, mungkin di saat akhir hidupnya, menjadi gambaran kasih Tuhan yang selalu menyertainya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari itu, Maria memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia mulai mengunjungi tetangganya yang sakit, yang kesepian, dan yang kehilangan harapan. Ia tidak membawa apa-apa selain senyum dan doa. Tak lupa dia membawa perlengkapan medis yang masih ada padanya. Sesekali ia membantu mengganti perban bagi tetangganya yang luka, juga obat-obatan umum.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Santo Paulus menyampaikan bahwa seorang Kristiani diharapkan melakukan perubahan dalam hidupnya. Dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, Paulus menyampaikan bahwa bersunat atau tidak, tidak ada artinya baginya. Namun menjadi ciptaan baru, itulah yang berarti. Karena bagi mereka yang melakukan hal tersebut, maka “.. turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” (Gal 6:16)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menjadi ciptaan baru berarti mengandalkan penyertaan Tuhan semata seperti tujuh puluh murid yang diutus oleh Tuhan Yesus pergi berdua-dua. Mereka diminta pergi tanpa membawa pundi-pundi, kantong perbekalan atau kasut. Tugas mereka sungguh tidak mudah, seperti anak domba ke tengah serigala (Luk 10:3). Namun dengan penyertaan Tuhan maka para murid kembali dengan gembira karena setan-setan pun takluk kepada mereka di dalam nama Tuhan Yesus (ay.17).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kewajiban rohani kita tidak hanya seperti lagu bina iman anak: “Baca kitab suci, doa tiap hari, kalau mau kudus.” Melakukan semua itu memang akan membuat hubungan kita semakin erat dengan Tuhan; namun melakukan perubahan sikap, kebiasaan dan tingkah laku sungguh diperlukan. Inilah yang disebutkan menjadi ciptaan baru. Seperti Maria, kita pun dipanggil untuk menjadi ciptaan baru, membawa terang dan penghiburan di tengah dunia yang penuh luka dengan tulus dan tanpa pamrih. Bukan karena kita hebat, tapi karena kasih Kristus yang hidup dalam kita.&lt;strong&gt;[JK]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Yes. 66:10-14c; Bacaan II : Gal. 6:14-18&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Luk. 10:1-12,17-20.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;MENJADI CIPTAAN BARU&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang perempuan paruh baya bernama Maria. Ia dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih, meski hidupnya tidak mudah. Suaminya telah lama meninggal, dan anak semata wayangnya bertugas jauh. Namun, Maria yang mantan perawat senior, tetap menjadi sumber penghiburan bagi banyak orang di desanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setiap pagi, Maria duduk di teras rumahnya, membaca Kitab Suci. Suatu hari, ia membaca dari Yesaya 66:13, “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem”. Maria merasa Tuhan sedang berbicara langsung kepadanya; bahwa meski ia sendiri, ia tidak pernah ditinggalkan. Yerusalem yang digambarkan sebagai tempat di mana dia akan mendapatkan penghiburan, mungkin di saat akhir hidupnya, menjadi gambaran kasih Tuhan yang selalu menyertainya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari itu, Maria memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia mulai mengunjungi tetangganya yang sakit, yang kesepian, dan yang kehilangan harapan. Ia tidak membawa apa-apa selain senyum dan doa. Tak lupa dia membawa perlengkapan medis yang masih ada padanya. Sesekali ia membantu mengganti perban bagi tetangganya yang luka, juga obat-obatan umum.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Santo Paulus menyampaikan bahwa seorang Kristiani diharapkan melakukan perubahan dalam hidupnya. Dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia, Paulus menyampaikan bahwa bersunat atau tidak, tidak ada artinya baginya. Namun menjadi ciptaan baru, itulah yang berarti. Karena bagi mereka yang melakukan hal tersebut, maka “.. turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” (Gal 6:16)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menjadi ciptaan baru berarti mengandalkan penyertaan Tuhan semata seperti tujuh puluh murid yang diutus oleh Tuhan Yesus pergi berdua-dua. Mereka diminta pergi tanpa membawa pundi-pundi, kantong perbekalan atau kasut. Tugas mereka sungguh tidak mudah, seperti anak domba ke tengah serigala (Luk 10:3). Namun dengan penyertaan Tuhan maka para murid kembali dengan gembira karena setan-setan pun takluk kepada mereka di dalam nama Tuhan Yesus (ay.17).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kewajiban rohani kita tidak hanya seperti lagu bina iman anak: “Baca kitab suci, doa tiap hari, kalau mau kudus.” Melakukan semua itu memang akan membuat hubungan kita semakin erat dengan Tuhan; namun melakukan perubahan sikap, kebiasaan dan tingkah laku sungguh diperlukan. Inilah yang disebutkan menjadi ciptaan baru. Seperti Maria, kita pun dipanggil untuk menjadi ciptaan baru, membawa terang dan penghiburan di tengah dunia yang penuh luka dengan tulus dan tanpa pamrih. Bukan karena kita hebat, tapi karena kasih Kristus yang hidup dalam kita.&lt;strong&gt;[JK]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Renungan" />
	</entry>
	<entry>
		<title>DIMAMPUKAN YESUS</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5370-dimampukan-yesus"/>
		<published>2025-06-28T15:20:55+07:00</published>
		<updated>2025-06-28T15:20:55+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5370-dimampukan-yesus</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kis. 12:1-11; Bacaan II : 2Tim. 4:6-8,17-18;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Mat. 16:13-19.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;DIMAMPUKAN YESUS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik. Mengapa Yesus memilih Petrus sebagai penerus-Nya untuk menggembalakan umat-nya? Petrus hanyalah seorang nelayan, bukan ahli kitab suci. Ada banyak kisah Petrus di dalam Injil. Dia sering bertindak tanpa berpikir seperti ketika melihat Yesus berjalan di danau, dia langsung meloncat dari perahu sampai hampir tenggelam. Emosinya yang tidak terkontrol membuat telinga Malkhus yang hendak menangkap Yesus putus dipotongnya. Dan kesalahannya yang paling besar adalah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Petrus punya banyak kisah negatif selama mengikuti Yesus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Petrus, yang berarti batu karang, adalah nama pemberian Yesus kepadanya. Nama aslinya adalah Simon. Di atas dirinya (batu karang), Yesus akan mendirikan Gereja-Nya, yang pasti akan kokoh berdiri, tahan terhadap terpaan badai dan alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:18). Yesus juga menyerahkan kunci Kerajaan Surga kepada Petrus. Apa yang dia ikat di dunia, akan terikat di surga, dan apa yang dia lepaskan di dunia, akan terlepas di surga. Dengan memegang kunci Kerajaan Surga, Petrus membukakan jalan menuju surga bagi Gereja yang dipercayakan kepadanya. Kunci ini adalah lambang pelayanan Petrus. Mengajar dan melayani umat agar menemukan jalan menuju surga dengan mengimani Yesus anak Allah yang hidup.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam karya pelayanannya, Petrus pun menghadapi tantangan, ditangkap dan dipenjarakan oleh Raja Herodes yang tidak menginginkan pengikut Kristus berkembang. Tetapi di malam hari sebelum dia dihadapkan kepada orang banyak, Allah mengirim malaikat-Nya untuk menyelamatkannya (Kis 12:1-11). Menurut tradisi Gereja, Petrus wafat disalib dan dia tetap memuliakan Allah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus. Dua pilar utama Gereja. Berbeda dengan Petrus yang mengenal Yesus karena mengikuti-Nya sebagai murid, Paulus justru adalah orang yang mengejar dan menangkap umat Kristen. Perjumpaannya dengan Yesus di perjalanan menuju Damsyik membuat dia kemudian berbalik mengikuti Yesus. Menjelang hari-hari akhirnya, Paulus berkisah dalam suratnya kepada Timotius bagaimana Tuhan mendampinginya agar dengan perantaraannya Injil diberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi (2 Tim 4:17).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Petrus dan Paulus dipanggil dan diutus bukan semata karena kemampuan mereka. Yesuslah yang kemudian memampukan mereka untuk melanjutkan misi-Nya bagi keselamatan umat manusia. Kita semua juga dipanggil untuk mewartakan kabar sukacita. Tidak perlu berkecil hati dengan kemampuan kita karena Yesus sendiri yang akan memampukan kita. Mari kabarkan warta sukacita-Nya agar semakin banyak yang diselamatkan!&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[MS]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kis. 12:1-11; Bacaan II : 2Tim. 4:6-8,17-18;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Mat. 16:13-19.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;DIMAMPUKAN YESUS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik. Mengapa Yesus memilih Petrus sebagai penerus-Nya untuk menggembalakan umat-nya? Petrus hanyalah seorang nelayan, bukan ahli kitab suci. Ada banyak kisah Petrus di dalam Injil. Dia sering bertindak tanpa berpikir seperti ketika melihat Yesus berjalan di danau, dia langsung meloncat dari perahu sampai hampir tenggelam. Emosinya yang tidak terkontrol membuat telinga Malkhus yang hendak menangkap Yesus putus dipotongnya. Dan kesalahannya yang paling besar adalah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Petrus punya banyak kisah negatif selama mengikuti Yesus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Petrus, yang berarti batu karang, adalah nama pemberian Yesus kepadanya. Nama aslinya adalah Simon. Di atas dirinya (batu karang), Yesus akan mendirikan Gereja-Nya, yang pasti akan kokoh berdiri, tahan terhadap terpaan badai dan alam maut tidak akan menguasainya (Mat 16:18). Yesus juga menyerahkan kunci Kerajaan Surga kepada Petrus. Apa yang dia ikat di dunia, akan terikat di surga, dan apa yang dia lepaskan di dunia, akan terlepas di surga. Dengan memegang kunci Kerajaan Surga, Petrus membukakan jalan menuju surga bagi Gereja yang dipercayakan kepadanya. Kunci ini adalah lambang pelayanan Petrus. Mengajar dan melayani umat agar menemukan jalan menuju surga dengan mengimani Yesus anak Allah yang hidup.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam karya pelayanannya, Petrus pun menghadapi tantangan, ditangkap dan dipenjarakan oleh Raja Herodes yang tidak menginginkan pengikut Kristus berkembang. Tetapi di malam hari sebelum dia dihadapkan kepada orang banyak, Allah mengirim malaikat-Nya untuk menyelamatkannya (Kis 12:1-11). Menurut tradisi Gereja, Petrus wafat disalib dan dia tetap memuliakan Allah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus. Dua pilar utama Gereja. Berbeda dengan Petrus yang mengenal Yesus karena mengikuti-Nya sebagai murid, Paulus justru adalah orang yang mengejar dan menangkap umat Kristen. Perjumpaannya dengan Yesus di perjalanan menuju Damsyik membuat dia kemudian berbalik mengikuti Yesus. Menjelang hari-hari akhirnya, Paulus berkisah dalam suratnya kepada Timotius bagaimana Tuhan mendampinginya agar dengan perantaraannya Injil diberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi (2 Tim 4:17).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Petrus dan Paulus dipanggil dan diutus bukan semata karena kemampuan mereka. Yesuslah yang kemudian memampukan mereka untuk melanjutkan misi-Nya bagi keselamatan umat manusia. Kita semua juga dipanggil untuk mewartakan kabar sukacita. Tidak perlu berkecil hati dengan kemampuan kita karena Yesus sendiri yang akan memampukan kita. Mari kabarkan warta sukacita-Nya agar semakin banyak yang diselamatkan!&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[MS]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Renungan" />
	</entry>
	<entry>
		<title>LAMBANG PENEGUHAN</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5368-lambang-peneguhan"/>
		<published>2025-06-21T14:12:00+07:00</published>
		<updated>2025-06-21T14:12:00+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5368-lambang-peneguhan</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Ams. 8:22-31; Bacaan II : Rm. 5:1-5;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 16:12-15.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;LAMBANG PENEGUHAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang ditetapkan oleh Paus Urbanus IV pada tahun 1264.&lt;br /&gt;Bacaan Injil hari ini menggambarkan sebuah situasi di mana orang banyak mengikuti Yesus sampai hari menjelang malam tiba. Terjadi diskusi singkat antara Yesus dan para murid. Para murid berpikir secara wajar dan meminta Yesus untuk menyuruh orang yang berbondong yang mengikuti mereka pergi ke kota atau daerah sekitar mencari penginapan dan mencari makan. Alih-alih mengikuti kehendak para murid, Yesus justru memerintahkan mereka untuk memberi orang-orang tersebut makanan. Bagaimana cara memberi makan lima ribu orang dengan persediaan yang ada yaitu lima roti dan dua ekor ikan? Sesuatu yang sangat mustahil bagi manusia. Namun Yesus membuka mata hati para murid agar mereka lebih mengenal tugas perutusan-Nya yaitu menghadirkan Kerajaan Allah melalui lima roti dan dua ikan yang ada pada mereka. Dia menengadah ke langit, mengucap syukur, memecah roti dan membagi-bagikannya. Yesus mencukupkan kebutuhan untuk orang banyak yang kemudian makan sampai kenyang, dan potongan roti yang tersisa sebanyak dua belas bakul [Luk 9:11-17].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam bacaan pertama dikisahkan Melkisedek seorang raja Salem dan imam Allah memberkati Abram. Abram menerimanya dengan ketaatan dan itu ditunjukkannya dengan memberikan sepersepuluh dari apa yang diperolehnya dari mengalahkan musuhnya. Siapakah Melkisedek, imam Allah yang Mahatinggi membawa roti dan anggur dan mampu membuat seorang Abram taat?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pada perjamuan malam terakhir, Yesus memberikan roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah-Nya kepada para murid. Yesus juga berpesan agar para murid melakukan hal yang sama sebagai peringatan akan pengurban Yesus. Ini disampaikan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus sebagai peneguhan kepada mereka [1Kor 11:23-26].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus memberi peneguhan bagi kita untuk terus menyadari dan membuka hati akan kehadiran Kristus di dalam kehidupan beriman. Roti dan anggur merupakan lambang peneguhan bagi tubuh dan darah-Nya yang kita sambut, menyatu di dalam batin dan nadi kita. Dengan merayakan peristiwa ini, maka kita dimampukan untuk dapat peduli dan berbagi kepada yang lain. Menarik disimak doa St. Thomas Aquinas saat menyambut Tubuh dan Darah Kristus: Tuhanku, buatlah aku menjadi lebih percaya lagi didalam Engkau. Bawalah aku lebih dalam kepada iman, ke dalam harap-Mu, ke dalam kasih-Mu. Amin.&lt;br /&gt;Selamat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus! &lt;strong&gt;[DN]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Ams. 8:22-31; Bacaan II : Rm. 5:1-5;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 16:12-15.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;LAMBANG PENEGUHAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang ditetapkan oleh Paus Urbanus IV pada tahun 1264.&lt;br /&gt;Bacaan Injil hari ini menggambarkan sebuah situasi di mana orang banyak mengikuti Yesus sampai hari menjelang malam tiba. Terjadi diskusi singkat antara Yesus dan para murid. Para murid berpikir secara wajar dan meminta Yesus untuk menyuruh orang yang berbondong yang mengikuti mereka pergi ke kota atau daerah sekitar mencari penginapan dan mencari makan. Alih-alih mengikuti kehendak para murid, Yesus justru memerintahkan mereka untuk memberi orang-orang tersebut makanan. Bagaimana cara memberi makan lima ribu orang dengan persediaan yang ada yaitu lima roti dan dua ekor ikan? Sesuatu yang sangat mustahil bagi manusia. Namun Yesus membuka mata hati para murid agar mereka lebih mengenal tugas perutusan-Nya yaitu menghadirkan Kerajaan Allah melalui lima roti dan dua ikan yang ada pada mereka. Dia menengadah ke langit, mengucap syukur, memecah roti dan membagi-bagikannya. Yesus mencukupkan kebutuhan untuk orang banyak yang kemudian makan sampai kenyang, dan potongan roti yang tersisa sebanyak dua belas bakul [Luk 9:11-17].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam bacaan pertama dikisahkan Melkisedek seorang raja Salem dan imam Allah memberkati Abram. Abram menerimanya dengan ketaatan dan itu ditunjukkannya dengan memberikan sepersepuluh dari apa yang diperolehnya dari mengalahkan musuhnya. Siapakah Melkisedek, imam Allah yang Mahatinggi membawa roti dan anggur dan mampu membuat seorang Abram taat?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pada perjamuan malam terakhir, Yesus memberikan roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah-Nya kepada para murid. Yesus juga berpesan agar para murid melakukan hal yang sama sebagai peringatan akan pengurban Yesus. Ini disampaikan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus sebagai peneguhan kepada mereka [1Kor 11:23-26].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus memberi peneguhan bagi kita untuk terus menyadari dan membuka hati akan kehadiran Kristus di dalam kehidupan beriman. Roti dan anggur merupakan lambang peneguhan bagi tubuh dan darah-Nya yang kita sambut, menyatu di dalam batin dan nadi kita. Dengan merayakan peristiwa ini, maka kita dimampukan untuk dapat peduli dan berbagi kepada yang lain. Menarik disimak doa St. Thomas Aquinas saat menyambut Tubuh dan Darah Kristus: Tuhanku, buatlah aku menjadi lebih percaya lagi didalam Engkau. Bawalah aku lebih dalam kepada iman, ke dalam harap-Mu, ke dalam kasih-Mu. Amin.&lt;br /&gt;Selamat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus! &lt;strong&gt;[DN]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Renungan" />
	</entry>
	<entry>
		<title>Si Comprehendis, Non Est Deus</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5366-si-comprehendis-non-est-deus"/>
		<published>2025-06-14T16:38:20+07:00</published>
		<updated>2025-06-14T16:38:20+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5366-si-comprehendis-non-est-deus</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Ams. 8:22-31; Bacaan II : Rm. 5:1-5;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 16:12-15.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;Si Comprehendis, Non Est Deus&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Tritunggal Mahakudus, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah misteri iman yang dalam. Dari abad ke abad selalu ada usaha-usaha untuk menjelaskan bagaimana Tritunggal Mahakudus harus dipahami, namun penjelasan-penjelasan itu tidak pernah memuaskan. Santo Agustinus, seorang bapa gereja, juga melakukan pencarian akan pemahaman Tritunggal Mahakudus sampai suatu hari dia berjumpa dengan seorang anak kecil di pantai. Anak kecil itu dilihatnya sedang memindahkan air laut ke dalam sebuah lubang kecil. Agustinus tersenyum setelah mendengar keinginan anak tersebut untuk memasukkan seluruh air laut ke dalam lubang kecil itu. “Mustahil,” kata Agustinus. Anak kecil itu menatapnya dan berkata bahwa mustahil juga menyelami misteri Tritunggal Mahakudus dengan akal manusia. Anak kecil itu kemudian menghilang, meninggalkan sebuah jawaban sekaligus teguran. Dari pengalaman spiritual ini lahirlah sebuah pernyataannya yang sangat terkenal si comprehendis, non est Deus [Jika engkau memahaminya, maka itu bukan Allah lagi].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kesaksian iman akan keberadaan Tritunggal Mahakudus telah ada sejak ribuan tahun silam. Penulis kitab Amsal mengisahkan tentang praeksistensi Anak bersama-sama dengan TUHAN sebelum segala sesuatunya ada. Di Perjanjian Baru ada kesaksian Yohanes, mengenai Yesus yang dia kenal sebagai Sang Firman. Dia lah yang sejak awal mula berada bersama dengan Allah dan segala sesuatu dijadikan melalui Dia [Yoh 1:1,3]. Dia adalah Firman yang bersama dengan Allah dan menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini seperti yang ditulis di dalam kitab Kejadian. Dia adalah Anak Allah yang memperkenalkan Roh Kebenaran kepada para murid [Yoh 16:13].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Si comprehendis, non est Deus adalah pengingat bahwa Allah bukan untuk dikendalikan oleh pikiran manusia yang sempit. Allah lebih besar dari semua konsep buatan manusia, lebih dalam dari semua logika yang paling logis, dan lebih nyata dari semua pemahaman yang pernah ada. Tritunggal Mahakudus harus diterima dengan iman dan disembah. Sebab kita yang dibenarkan karena iman hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita, Yesus Kristus [Rm 5:1].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tritunggal Mahakudus adalah persekutuan kasih yang sempurna: Bapa mengasihi Anak, Anak mengasihi Bapa, dan Roh Kudus merupakan ikatan kasih yang mengalir di antara-Nya. Dari kasih inilah segala sesuatu diciptakan, dan melalui kasih yang sama, manusia yang jatuh ke dalam dosa, ditebus dan diselamatkan. Kita dipanggil untuk mencerminkan relasi kasih Tritunggal Mahakudus di dalam keluarga, komunitas dan misi kita sebagai para pengikut Kristus. Selamat merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus! &lt;strong&gt;[CT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Ams. 8:22-31; Bacaan II : Rm. 5:1-5;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 16:12-15.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;Si Comprehendis, Non Est Deus&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Tritunggal Mahakudus, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah misteri iman yang dalam. Dari abad ke abad selalu ada usaha-usaha untuk menjelaskan bagaimana Tritunggal Mahakudus harus dipahami, namun penjelasan-penjelasan itu tidak pernah memuaskan. Santo Agustinus, seorang bapa gereja, juga melakukan pencarian akan pemahaman Tritunggal Mahakudus sampai suatu hari dia berjumpa dengan seorang anak kecil di pantai. Anak kecil itu dilihatnya sedang memindahkan air laut ke dalam sebuah lubang kecil. Agustinus tersenyum setelah mendengar keinginan anak tersebut untuk memasukkan seluruh air laut ke dalam lubang kecil itu. “Mustahil,” kata Agustinus. Anak kecil itu menatapnya dan berkata bahwa mustahil juga menyelami misteri Tritunggal Mahakudus dengan akal manusia. Anak kecil itu kemudian menghilang, meninggalkan sebuah jawaban sekaligus teguran. Dari pengalaman spiritual ini lahirlah sebuah pernyataannya yang sangat terkenal si comprehendis, non est Deus [Jika engkau memahaminya, maka itu bukan Allah lagi].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kesaksian iman akan keberadaan Tritunggal Mahakudus telah ada sejak ribuan tahun silam. Penulis kitab Amsal mengisahkan tentang praeksistensi Anak bersama-sama dengan TUHAN sebelum segala sesuatunya ada. Di Perjanjian Baru ada kesaksian Yohanes, mengenai Yesus yang dia kenal sebagai Sang Firman. Dia lah yang sejak awal mula berada bersama dengan Allah dan segala sesuatu dijadikan melalui Dia [Yoh 1:1,3]. Dia adalah Firman yang bersama dengan Allah dan menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini seperti yang ditulis di dalam kitab Kejadian. Dia adalah Anak Allah yang memperkenalkan Roh Kebenaran kepada para murid [Yoh 16:13].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Si comprehendis, non est Deus adalah pengingat bahwa Allah bukan untuk dikendalikan oleh pikiran manusia yang sempit. Allah lebih besar dari semua konsep buatan manusia, lebih dalam dari semua logika yang paling logis, dan lebih nyata dari semua pemahaman yang pernah ada. Tritunggal Mahakudus harus diterima dengan iman dan disembah. Sebab kita yang dibenarkan karena iman hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita, Yesus Kristus [Rm 5:1].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tritunggal Mahakudus adalah persekutuan kasih yang sempurna: Bapa mengasihi Anak, Anak mengasihi Bapa, dan Roh Kudus merupakan ikatan kasih yang mengalir di antara-Nya. Dari kasih inilah segala sesuatu diciptakan, dan melalui kasih yang sama, manusia yang jatuh ke dalam dosa, ditebus dan diselamatkan. Kita dipanggil untuk mencerminkan relasi kasih Tritunggal Mahakudus di dalam keluarga, komunitas dan misi kita sebagai para pengikut Kristus. Selamat merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus! &lt;strong&gt;[CT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Renungan" />
	</entry>
	<entry>
		<title>PENOLONG SEJATI</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5364-penolong-sejati"/>
		<published>2025-06-07T15:21:17+07:00</published>
		<updated>2025-06-07T15:21:17+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5364-penolong-sejati</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kis. 2:1-11; Bacaan II : 1Kor. 12:3b-7,12-13;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 12:19-27.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;PENOLONG SEJATI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketika perang saudara berkecamuk di Bosnia tahun 1992, Michael Nicholson seorang wartawan, menemukan gadis kecil bernama Natasha yang menjadi korban konflik. Melihat kondisi Natasha yang memprihatinkan dan kehilangan keluarganya, Nicholson memutuskan untuk membawanya keluar dari Bosnia dan mengadopsinya sebagai anak. Nicholson menerbitkan pengalamannya dalam bukunya, Natasha's Story yang menjadi dasar film Welcome to Sarajevo tahun 1997. Keberanian dan ketulusan Nicholson dalam menyelamatkan Natasha bukan hanya menyelamatkan masa depan gadis kecil itu, tetapi juga menginspirasi banyak orang di seluruh dunia tentang arti sejati dari empati dan keberanian. Bagi Natasha, yang kemudian menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dan berhasil meraih gelar diploma dalam Ilmu Olahraga, Nicholson merupakan penolong sejati.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tuhan Yesus memahami bahwa para murid akan memerlukan Penolong dalam mewartakan kabar sukacita. Mereka tidak akan sendirian dalam melaksanakan tugas perutusan mereka. Penolong yang dijanjikan Tuhan Yesus kepada para murid ternyata bukan sembarang penolong. Dia adalah Roh Kudus yang diutus langsung oleh Bapa dalam nama Tuhan Yesus. Dia mengajarkan segala sesuatu kepada mereka dan mengingatkan perkataan-perkataan yang pernah disampaikan Tuhan Yesus [Yoh 14:26].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Roh Kudus turun tepat pada hari Pentakosta, sepuluh hari sejak kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Pentakosta sendiri berarti “yang ke-limapuluh”, tepat limapuluh hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta juga dirayakan limapuluh hari setelah Hari Raya Paskah. Roh Kudus yang dijanjikan membawa dampak luar biasa bukan hanya bagi para murid, namun juga bagi mereka dari berbagai bangsa dan bahasa yang berbeda dari para murid. Mereka mendengarkan para murid yang menerima pencurahan Roh Kudus, menceritakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah [Kis 2:11].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tugas dalam pewartaan kabar sukacita tidak berhenti pada para murid. Para santo santa, pengaku iman dan para pengikut Kristus dari segala bentangan zaman dengan bantuan Roh Kudus terus mewartakannya. Demikian pula dengan kita yang berada di zaman ini yang tetap mewartakan kabar sukacita sesuai dengan karunia yang diberikan Roh Kudus kepada kita. Ada berbagai karunia, tetapi tetap satu Roh. Ada berbagai pelayanan tetapi satu Tuhan [1Kor 12:4-5], yaitu Tuhan Yesus Kristus. Mari kita bertekun dalam tugas-tugas pelayanan kita, tidak melihat sesama pelayan sebagai kompetitor melainkan sebagai rekan sekerja di ladang Tuhan. Selamat merayakan Hari Raya Pentakosta!&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[CT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kis. 2:1-11; Bacaan II : 1Kor. 12:3b-7,12-13;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 12:19-27.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;PENOLONG SEJATI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketika perang saudara berkecamuk di Bosnia tahun 1992, Michael Nicholson seorang wartawan, menemukan gadis kecil bernama Natasha yang menjadi korban konflik. Melihat kondisi Natasha yang memprihatinkan dan kehilangan keluarganya, Nicholson memutuskan untuk membawanya keluar dari Bosnia dan mengadopsinya sebagai anak. Nicholson menerbitkan pengalamannya dalam bukunya, Natasha's Story yang menjadi dasar film Welcome to Sarajevo tahun 1997. Keberanian dan ketulusan Nicholson dalam menyelamatkan Natasha bukan hanya menyelamatkan masa depan gadis kecil itu, tetapi juga menginspirasi banyak orang di seluruh dunia tentang arti sejati dari empati dan keberanian. Bagi Natasha, yang kemudian menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dan berhasil meraih gelar diploma dalam Ilmu Olahraga, Nicholson merupakan penolong sejati.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tuhan Yesus memahami bahwa para murid akan memerlukan Penolong dalam mewartakan kabar sukacita. Mereka tidak akan sendirian dalam melaksanakan tugas perutusan mereka. Penolong yang dijanjikan Tuhan Yesus kepada para murid ternyata bukan sembarang penolong. Dia adalah Roh Kudus yang diutus langsung oleh Bapa dalam nama Tuhan Yesus. Dia mengajarkan segala sesuatu kepada mereka dan mengingatkan perkataan-perkataan yang pernah disampaikan Tuhan Yesus [Yoh 14:26].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Roh Kudus turun tepat pada hari Pentakosta, sepuluh hari sejak kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Pentakosta sendiri berarti “yang ke-limapuluh”, tepat limapuluh hari setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta juga dirayakan limapuluh hari setelah Hari Raya Paskah. Roh Kudus yang dijanjikan membawa dampak luar biasa bukan hanya bagi para murid, namun juga bagi mereka dari berbagai bangsa dan bahasa yang berbeda dari para murid. Mereka mendengarkan para murid yang menerima pencurahan Roh Kudus, menceritakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah [Kis 2:11].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tugas dalam pewartaan kabar sukacita tidak berhenti pada para murid. Para santo santa, pengaku iman dan para pengikut Kristus dari segala bentangan zaman dengan bantuan Roh Kudus terus mewartakannya. Demikian pula dengan kita yang berada di zaman ini yang tetap mewartakan kabar sukacita sesuai dengan karunia yang diberikan Roh Kudus kepada kita. Ada berbagai karunia, tetapi tetap satu Roh. Ada berbagai pelayanan tetapi satu Tuhan [1Kor 12:4-5], yaitu Tuhan Yesus Kristus. Mari kita bertekun dalam tugas-tugas pelayanan kita, tidak melihat sesama pelayan sebagai kompetitor melainkan sebagai rekan sekerja di ladang Tuhan. Selamat merayakan Hari Raya Pentakosta!&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[CT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Renungan" />
	</entry>
	<entry>
		<title>KASIH SEBAGAI LANDASAN KOMUNIKASI</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5362-kasih-sebagai-landasan-komunikasi"/>
		<published>2025-05-31T16:06:56+07:00</published>
		<updated>2025-05-31T16:06:56+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5362-kasih-sebagai-landasan-komunikasi</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kis. 7:55-60; Bacaan II : Why. 22:12-14,16-17,20;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 17:20-26.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;KASIH SEBAGAI LANDASAN KOMUNIKASI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini Gereja memperingati Hari Komunikasi Sedunia yang ke 59. Sesuai tradisi Gereja Katolik, sejak ditetapkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967 perayaan ini selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Hari Raya Pentakosta. Almarhum Paus Fransiskus telah memilih tema “Bagikanlah dengan kelemahlembutan harapan yang ada di dalam hatimu” sesuai dengan 1Ptr 3:15-16. Tema ini merupakan ajakan kepada setiap insan untuk menjadi pelaku komunikasi yang menghadirkan harapan alih-alih menebar ketakutan, kemarahan, atau memicu konflik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bacaan Injil hari ini sebuah komunikasi antara Yesus dengan Bapa-Nya. Komunikasi dalam bentuk doa ini berisikan tentang bagaimana harapan Yesus sebelum Dia ditinggikan di kayu salib. Yesus tidak berdoa kesuksesan, kepopuleran, atau kenyamanan duniawi lainnya. Yang diinginkan-Nya adalah agar para murid-Nya menjadi satu, sama seperti Dia adalah satu dengan Bapa. Persatuan yang mencerminkan hubungan kasih yang sempurna antara Bapa dan Anak [Yoh 17:23]. Yesus berdoa bukan hanya bagi murid-murid-Nya waktu itu, tetapi juga bagi semua orang yang akan percaya kepada-Nya di masa depan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kesatuan dengan Yesus juga dialami oleh Stefanus, martir pertama Gereja. Dia yang dipenuhi Roh Kudus melihat kemuliaan Allah dan Yesus yang berdiri di kanan-Nya. Penderitaannya akibat diseret dan dilempari batu justru merupakan pendorong untuk segera bersatu dengan Yesus [Kis 7:59]. Kemartirannya merupakan saksi bagi kekristenan di sepanjang zaman bahwa Yesus adalah sungguh Anak Allah sekaligus menguatkan harapan akan adanya kesatuan kekal bersama Kristus dan Bapa. Demikian juga dengan pengelihatan Yohanes menguatkan harapan bagi para pengikut Kristus bahwa kehidupan kekal bukanlah sekedar utopia belaka, namun sungguh nyata bagi orang percaya [Why 22:17]. Pengelihatan yang diperolehnya merupakan bentuk komunikasi Allah kepada siapa saja yang menerima kabar gembira ini akan tersedianya tempat di mana air kehidupan bisa diperoleh dengan cuma-cuma.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam dunia yang penuh perpecahan, yang salah satunya disebabkan oleh buruknya komunikasi maka kesatuan kita sebagai para pengikut Kristus merupakan kesaksian bagi dunia yang melihatnya. Buruknya komunikasi disebabkan oleh manusia yang telah kehilangan kasih dan harapan. Yesus telah menunjukkan di dalam doa-Nya bahwa kasih adalah landasan komunikasi yang utama [Yoh17:26]. Mari kita terus menerus membangun komunikasi berlandaskan kasih agar kesatuan dengan sesama terpelihara baik seperti yang diharapkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Selama memperingati Hari Minggu Komunikasi Sedunia.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[CT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;div id=&quot;gtx-trans&quot; style=&quot;position: absolute; left: 1284px; top: 600px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kis. 7:55-60; Bacaan II : Why. 22:12-14,16-17,20;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 17:20-26.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;KASIH SEBAGAI LANDASAN KOMUNIKASI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari ini Gereja memperingati Hari Komunikasi Sedunia yang ke 59. Sesuai tradisi Gereja Katolik, sejak ditetapkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967 perayaan ini selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Hari Raya Pentakosta. Almarhum Paus Fransiskus telah memilih tema “Bagikanlah dengan kelemahlembutan harapan yang ada di dalam hatimu” sesuai dengan 1Ptr 3:15-16. Tema ini merupakan ajakan kepada setiap insan untuk menjadi pelaku komunikasi yang menghadirkan harapan alih-alih menebar ketakutan, kemarahan, atau memicu konflik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bacaan Injil hari ini sebuah komunikasi antara Yesus dengan Bapa-Nya. Komunikasi dalam bentuk doa ini berisikan tentang bagaimana harapan Yesus sebelum Dia ditinggikan di kayu salib. Yesus tidak berdoa kesuksesan, kepopuleran, atau kenyamanan duniawi lainnya. Yang diinginkan-Nya adalah agar para murid-Nya menjadi satu, sama seperti Dia adalah satu dengan Bapa. Persatuan yang mencerminkan hubungan kasih yang sempurna antara Bapa dan Anak [Yoh 17:23]. Yesus berdoa bukan hanya bagi murid-murid-Nya waktu itu, tetapi juga bagi semua orang yang akan percaya kepada-Nya di masa depan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kesatuan dengan Yesus juga dialami oleh Stefanus, martir pertama Gereja. Dia yang dipenuhi Roh Kudus melihat kemuliaan Allah dan Yesus yang berdiri di kanan-Nya. Penderitaannya akibat diseret dan dilempari batu justru merupakan pendorong untuk segera bersatu dengan Yesus [Kis 7:59]. Kemartirannya merupakan saksi bagi kekristenan di sepanjang zaman bahwa Yesus adalah sungguh Anak Allah sekaligus menguatkan harapan akan adanya kesatuan kekal bersama Kristus dan Bapa. Demikian juga dengan pengelihatan Yohanes menguatkan harapan bagi para pengikut Kristus bahwa kehidupan kekal bukanlah sekedar utopia belaka, namun sungguh nyata bagi orang percaya [Why 22:17]. Pengelihatan yang diperolehnya merupakan bentuk komunikasi Allah kepada siapa saja yang menerima kabar gembira ini akan tersedianya tempat di mana air kehidupan bisa diperoleh dengan cuma-cuma.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam dunia yang penuh perpecahan, yang salah satunya disebabkan oleh buruknya komunikasi maka kesatuan kita sebagai para pengikut Kristus merupakan kesaksian bagi dunia yang melihatnya. Buruknya komunikasi disebabkan oleh manusia yang telah kehilangan kasih dan harapan. Yesus telah menunjukkan di dalam doa-Nya bahwa kasih adalah landasan komunikasi yang utama [Yoh17:26]. Mari kita terus menerus membangun komunikasi berlandaskan kasih agar kesatuan dengan sesama terpelihara baik seperti yang diharapkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Selama memperingati Hari Minggu Komunikasi Sedunia.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[CT]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;div id=&quot;gtx-trans&quot; style=&quot;position: absolute; left: 1284px; top: 600px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;</content>
		<category term="Renungan" />
	</entry>
	<entry>
		<title>KETAATAN</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5360-ketaatan"/>
		<published>2025-05-25T10:05:49+07:00</published>
		<updated>2025-05-25T10:05:49+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/blog/renungan/5360-ketaatan</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kis. 15:1-2,22-29; Bacaan II : Why. 21:10-14.22-23;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 14:23-29..&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;KETAATAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perkembangan jemaat awal penuh dengan dinamika. Salah satu yang terjadi adalah mengenai sunat sebagai syarat keselamatan. Paham ini dibawa oleh orang-orang dari Yudea yang datang ke Antiokhia. Mereka yang berpendapat seperti itu dilandasi oleh adat istiadat yang diwariskan oleh Musa [Kis 15:1]. Padahal Musa juga mengajarkan kepada orang Israel bagaimana pentingnya umat sunat hati. Sunat secara lahiriah itu penting tetapi kalau hatinya tetap bebal, tidak taat itu semua jadi sia sia [Ul 10:16].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Paham ini tentu dengan mudah dimengerti bagi mereka yang mempunyai latar belakang budaya Yahudi. Namun di Antiokhia banyak orang-orang non Yahudi yang tidak mudah menerima hal ini. Untuk itu para rasul mengutus Paulus dan Barnabas untuk mengatasi polemik yang terjadi di tengah umat. Berangkat bersama mereka adalah Barsabas dan Silas. Para rasul membekali mereka dengan surat untuk dibacakan kepada jemaat di Antiokhia, Syria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Dalam surat itu disebutkan agar jemaat menjauhkan diri makanan dari persembahan berhala, darah, binatang yang dicekik dan percabulan. Inti dari pesan ini adalah agar jemaat memurnikan diri dan menjadikan diri mereka kudus. Di atas semua itu adalah ketaatan mengikuti perintah dari para rasul.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menjadi kudus karena Allah adalah kudus seperti yang dilihat dan dituliskan oleh Yohanes dalam Kitab Wahyu mengenai kota Yerusalem baru yang turun dari surga. Kota itu begitu indah dan gemilang di mana Allah dan Anak Domba yang menjadi Bait Sucinya. Kota Yerusalem baru ini tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab Kemuliaan Allah yang akan menyinari selama lamanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketaatan adalah kunci menjadi kudus. Itulah yang ingin disampaikan Yesus kepada para rasul karena dengan menuruti firman-Nya berarti mengasihi-Nya. Untuk menjadi kudus, para rasul tidak bisa melakukannya dengan usaha sendiri. Yesus mengetahui hal ini dan untuk itu sebelum meninggalkan mereka, dalam percakapan perjamuan malam terakhir, Yesus menjanjikan Roh Kudus kepada para rasul. Roh Kudus bertugas untuk mengajarkan dan mengingatkan para rasul mengenai hal-hal yang diajarkan Yesus kepada mereka. Roh Kudus membimbing para rasul untuk senantiasa taat kepada perintah Yesus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menjelang peringatan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, melalui bacaan-bacaan hari ini ada pertanyaan yang menjadi permenungan kita. Apakah kita masih menaati perintah-perintah-Nya? Semoga Roh Kudus senantiasa memampukan usaha-usaha kita untuk taat dan hidup kudus dalam bimbingan-Nya.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[MDR]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 200px; height: 200px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/emmaus.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #800000;&quot;&gt;&lt;em style=&quot;font-size: 12px;&quot;&gt;Bacaan I : Kis. 15:1-2,22-29; Bacaan II : Why. 21:10-14.22-23;&lt;br /&gt;Bacaan Injil : Yoh. 14:23-29..&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc;&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-size: 18px;&quot;&gt;KETAATAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perkembangan jemaat awal penuh dengan dinamika. Salah satu yang terjadi adalah mengenai sunat sebagai syarat keselamatan. Paham ini dibawa oleh orang-orang dari Yudea yang datang ke Antiokhia. Mereka yang berpendapat seperti itu dilandasi oleh adat istiadat yang diwariskan oleh Musa [Kis 15:1]. Padahal Musa juga mengajarkan kepada orang Israel bagaimana pentingnya umat sunat hati. Sunat secara lahiriah itu penting tetapi kalau hatinya tetap bebal, tidak taat itu semua jadi sia sia [Ul 10:16].&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Paham ini tentu dengan mudah dimengerti bagi mereka yang mempunyai latar belakang budaya Yahudi. Namun di Antiokhia banyak orang-orang non Yahudi yang tidak mudah menerima hal ini. Untuk itu para rasul mengutus Paulus dan Barnabas untuk mengatasi polemik yang terjadi di tengah umat. Berangkat bersama mereka adalah Barsabas dan Silas. Para rasul membekali mereka dengan surat untuk dibacakan kepada jemaat di Antiokhia, Syria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Dalam surat itu disebutkan agar jemaat menjauhkan diri makanan dari persembahan berhala, darah, binatang yang dicekik dan percabulan. Inti dari pesan ini adalah agar jemaat memurnikan diri dan menjadikan diri mereka kudus. Di atas semua itu adalah ketaatan mengikuti perintah dari para rasul.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menjadi kudus karena Allah adalah kudus seperti yang dilihat dan dituliskan oleh Yohanes dalam Kitab Wahyu mengenai kota Yerusalem baru yang turun dari surga. Kota itu begitu indah dan gemilang di mana Allah dan Anak Domba yang menjadi Bait Sucinya. Kota Yerusalem baru ini tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab Kemuliaan Allah yang akan menyinari selama lamanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketaatan adalah kunci menjadi kudus. Itulah yang ingin disampaikan Yesus kepada para rasul karena dengan menuruti firman-Nya berarti mengasihi-Nya. Untuk menjadi kudus, para rasul tidak bisa melakukannya dengan usaha sendiri. Yesus mengetahui hal ini dan untuk itu sebelum meninggalkan mereka, dalam percakapan perjamuan malam terakhir, Yesus menjanjikan Roh Kudus kepada para rasul. Roh Kudus bertugas untuk mengajarkan dan mengingatkan para rasul mengenai hal-hal yang diajarkan Yesus kepada mereka. Roh Kudus membimbing para rasul untuk senantiasa taat kepada perintah Yesus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menjelang peringatan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, melalui bacaan-bacaan hari ini ada pertanyaan yang menjadi permenungan kita. Apakah kita masih menaati perintah-perintah-Nya? Semoga Roh Kudus senantiasa memampukan usaha-usaha kita untuk taat dan hidup kudus dalam bimbingan-Nya.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;[MDR]&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Renungan" />
	</entry>
</feed>
