<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!-- generator="Joomla! - Open Source Content Management" -->
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom"  xml:lang="en-gb">
	<title type="text">Paroki Serpong Gereja St.Monika</title>
	<subtitle type="text">paroki serpong santa monika</subtitle>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org"/>
	<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa</id>
	<updated>2025-07-23T18:27:53+07:00</updated>
	<author>
		<name>Admin Website Paroki Serpong St. Monika</name>
		<email>parokisantamonika@gmail.com</email>
	</author>
	<generator uri="http://joomla.org">Joomla! - Open Source Content Management</generator>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa?format=feed&amp;type=atom"/>
	<entry>
		<title>Taman Makam Cibadung (Februari 2022)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/5002-taman-makam-cibadung-februari-2022"/>
		<published>2022-02-14T14:44:55+07:00</published>
		<updated>2022-02-14T14:44:55+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/5002-taman-makam-cibadung-februari-2022</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img style=&quot;width: 1200px; height: 630px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/IKLAN_feb2022_rv2.jpg&quot; alt=&quot;IKLAN Feb2022 rv2&quot; width=&quot;800&quot; height=&quot;450&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img style=&quot;width: 1200px; height: 630px; display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/IKLAN_feb2022_rv2.jpg&quot; alt=&quot;IKLAN Feb2022 rv2&quot; width=&quot;800&quot; height=&quot;450&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Apa Dan Siapa" />
	</entry>
	<entry>
		<title>KOMUNITAS DEI VERBUM (KDV)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/5001-komunitas-dei-verbum-kdv"/>
		<published>2022-02-14T13:45:47+07:00</published>
		<updated>2022-02-14T13:45:47+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/5001-komunitas-dei-verbum-kdv</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Logo_Komunitas_Dei_Verbum.JPG&quot; alt=&quot;Logo Komunitas Dei Verbum&quot; width=&quot;200&quot; height=&quot;281&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h2 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;KOMUNITAS DEI VERBUM (KDV)&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;Kegiatan membaca Kitab Suci setiap hari sudah lama dirintis oleh berbagai kelompok kecil maupun kelompok besar. Beberapa kegiatan seperti ini dirintis oleh teman-teman yang tadinya bergabung dengan EJ ataupun dari KEP yang ingin lanjut untuk membaca Kitab Suci sampai selesai. Komunitas Dei Verbum, awalnya juga hanya kelompok kecil yang berniat untuk membaca Kitab Suci dari kitab Kejadian hingga Wahyu. Awal terbentuknya KDV dari Seksi Kerasulan Kitab Suci atau KKS paroki Cilandak yang mengajak Romo Yustinus Rumanto, SJ untuk membantu umat katolik agark bisa membaca Kitab Suci. Saat diskusi Romo Yustinus Rumanto, SJ yang akrab dipanggil Romo Rum mengusulkan untuk membentuk kelompok baca Kitab Suci lewat grup wa. Rencananya cuma mau cari 30 – 50 orang saja menurut Romo Rum cukup, yang penting bisa membuat umat lebih bergairah untuk membaca Kitab Suci. Mereka lalu menyebar info ke umat di Cilandak, Blok B dan juga Duren Sawit. Ternyata setelah terkumpul jumlah umat yang tertarik sekitar 260 orang, dan ternyata cukup membingungkan untuk mengatur 200an orang dalam 1 grup. Awal terbentuknya grup wa KDV pada bulan Oktober 2016, saat itu Romo Rum bertugas sebagai pastor pendamping di gereja Blok B. &lt;br /&gt;Pilihan nama Dei Verbum berarti Sabda Tuhan, yang merupakan salah satu konstitusi dogmatis dalam Dokumen Konsili Vatikan II. Dei Verbum menjelaskan tentang pewahyuan Allah dan Kitab Suci. Seiring dengan waktu, anggota yang tertarik mengikuti KDV pun bertambah hingga berkembang menjadi 10 grup dengan jumlah anggota antara 20 – 60 orang. Pertanyaan yang masuk semakin banyak dan kadang pertanyaan yang sama muncul karena terbentuk kelompok baru yang mulai baca dari Kitab Kejadian. Sempat tim admin dan Romo Rum berniat menutup grup KDV karena sudah tidak bisa terpegang lagi. Namun tangan Tuhan tetap bekerja untuk membuat KDV menjadi kelompok yang lebih besar lagi. Pada masa-masa sulit itu, ada anggota yang bersedia mengumpulkan daftar pertanyaan dan dibuat dalam bentuk file excel. Ide pun semakin berkembang hingga akhirnya bisa membuat aplikasi iGreja yang dapat didownload secara gratis dan dapat diakses siapapun.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Romo_Yustinus_Rumanto_SJ.JPG&quot; alt=&quot;Romo Yustinus Rumanto SJ&quot; width=&quot;477&quot; height=&quot;541&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: center;&quot;&gt;Romo Yustinus Rumanto, SJ&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pandemic, KDV sudah mengadakan beberapa kegiatan seperti Latihan doa, retret dan program Kisah Kasih Allah. Di KDV sendiri ada pengumpulan dana dan Dana yang terkumpul dipakai untuk memberi bantuan atau sumbangan bagi gereja atau komunitas katolik lainnya. Selama ini dari dana yang terkumpul sudah dipakai untuk membantu korban gempa bumi di Palu dan NTT, serta proyek membuat sumur di Sumba dan juga memberi beasiswa untuk anak-anak. Informasi yang disampaikan oleh Romo Rum yang kini bertugas menjadi pengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pengajuan untuk bantuan dana ini boleh diajukan oleh siapapun namun harus lewat Lembaga katolik seperti paroki, panti asuhan, panti jompo, atau lewat sekolah. Syaratnya adalah harus lewat Lembaga, karena tim dari KDV tidak melakukan survey untuk pemberian bantuan. &lt;br /&gt;Setelah pandemic bisa dikatakan tidak ada lagi kegiatan yang bersifat temu langsung dan semuanya menjadi pertemuan online lewat link yang dibagikan di grup ataupun lewat info yang ada di iGreja. Anggota dari KDV sendiri jumlahnya sekarang menjadi ribuan dan tersebar dari seluruh wilayah Indonesia, bahkan sampai luar negeri seperti Australia, Amerika hingga Islandia, yang pastinya mereka mengerti Bahasa Indonesia karena aplikasi iGreja hanya menggunakan Bahasa Indonesia. Selain kegiatan yang sudah diinfokan pada artikel “Pendalaman Iman di Masa Pandemic” juga ada kegiatan Komsel / cell group dengan nama Berjalan Bersama Tuhan (BBT) dan Wonderace. BBT adalah komsel Persahabatan dalam Tuhan melalui pendalaman KS dari Kejadian hingga Wahyu, plus 5 tema (Paham Allah, Sejarah Doktrin Gereja, Ekaristi, Maria, Konsili Vatikan II). Caranya: menjawab pertanyaan yang ada dalam buku panduan dan sharing pengalaman iman atau kehidupan di komsel. Sementara Wonderace adalah Kelompok Dukungan Sebaya untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang universal dan abadi. Nilai-nilai kehidupan tersebut menjadi semakin konkret dan nyata lewat contoh kisah-kisah yang ditampilkan. Kisah-kisah hidup tersebut adalah kisah yang penuh kearifan dan membangkitkan inspirasi. Anda akan belajar dari orang-orang yang menjalani kehidupan dengan penuh makna, syukur, kegembiraan, penderitaan, dan tantangan. Anggota komsel bisa mendaftar secara perorangan ataupun kelompok. Komsel ini terdiri dari 5 – 10 orang, di mana merupakan kelompok persahabatan dalam waktu yang tidak terbatas. Bisa dikatakan mirip dengan Emmaus Journey tapi tidak memiliki batas waktu. Kelompok ini akan dipandu tim dari KDV dengan memberikan bahan dan fasilitator, sekitar 3 bulan. Setelah bisa berjalan sendiri, kelompok bisa mengadakan pertemuan mengikuti bahan yang disiapkan oleh KDV.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Logo_iGreja.JPG&quot; alt=&quot;Logo iGreja&quot; width=&quot;200&quot; height=&quot;200&quot; /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicermati bahwa Komunitas Dei Verbum hanya bertujuan untuk membantu umat katolik lebih aktif membaca dan dapat memahami Kitab Suci serta membantu gereja. Romo Rum menegaskan bahwa KDV tidak membentuk komunitas baru di dalam paroki maupun di dalam keuskupan, sehingga anggota selalu terbuka untuk datang dan pergi. Romo Rum bahkan pernah mendapat tanggapan dari Kardinal Ignatius Suharyo mengenai komunitas ini. Menurut Kardinal komunitas ini membantu umat untuk membaca Kitab Suci dengan mudah. Dengan adanya aplikasi iGreja sangat mempermudah untuk membaca Kitab Suci setiap hari. KDV juga didukung oleh banyak imam dari KAJ maupun keuskupan lainnya baik di dalam maupun di luar negeri. Ada beberapa pastor, frater dan juga suster juga ikut menjadi anggota KDV.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Eleonora Francisca (EF)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px; text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Logo_Komunitas_Dei_Verbum.JPG&quot; alt=&quot;Logo Komunitas Dei Verbum&quot; width=&quot;200&quot; height=&quot;281&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h2 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;KOMUNITAS DEI VERBUM (KDV)&lt;/h2&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;Kegiatan membaca Kitab Suci setiap hari sudah lama dirintis oleh berbagai kelompok kecil maupun kelompok besar. Beberapa kegiatan seperti ini dirintis oleh teman-teman yang tadinya bergabung dengan EJ ataupun dari KEP yang ingin lanjut untuk membaca Kitab Suci sampai selesai. Komunitas Dei Verbum, awalnya juga hanya kelompok kecil yang berniat untuk membaca Kitab Suci dari kitab Kejadian hingga Wahyu. Awal terbentuknya KDV dari Seksi Kerasulan Kitab Suci atau KKS paroki Cilandak yang mengajak Romo Yustinus Rumanto, SJ untuk membantu umat katolik agark bisa membaca Kitab Suci. Saat diskusi Romo Yustinus Rumanto, SJ yang akrab dipanggil Romo Rum mengusulkan untuk membentuk kelompok baca Kitab Suci lewat grup wa. Rencananya cuma mau cari 30 – 50 orang saja menurut Romo Rum cukup, yang penting bisa membuat umat lebih bergairah untuk membaca Kitab Suci. Mereka lalu menyebar info ke umat di Cilandak, Blok B dan juga Duren Sawit. Ternyata setelah terkumpul jumlah umat yang tertarik sekitar 260 orang, dan ternyata cukup membingungkan untuk mengatur 200an orang dalam 1 grup. Awal terbentuknya grup wa KDV pada bulan Oktober 2016, saat itu Romo Rum bertugas sebagai pastor pendamping di gereja Blok B. &lt;br /&gt;Pilihan nama Dei Verbum berarti Sabda Tuhan, yang merupakan salah satu konstitusi dogmatis dalam Dokumen Konsili Vatikan II. Dei Verbum menjelaskan tentang pewahyuan Allah dan Kitab Suci. Seiring dengan waktu, anggota yang tertarik mengikuti KDV pun bertambah hingga berkembang menjadi 10 grup dengan jumlah anggota antara 20 – 60 orang. Pertanyaan yang masuk semakin banyak dan kadang pertanyaan yang sama muncul karena terbentuk kelompok baru yang mulai baca dari Kitab Kejadian. Sempat tim admin dan Romo Rum berniat menutup grup KDV karena sudah tidak bisa terpegang lagi. Namun tangan Tuhan tetap bekerja untuk membuat KDV menjadi kelompok yang lebih besar lagi. Pada masa-masa sulit itu, ada anggota yang bersedia mengumpulkan daftar pertanyaan dan dibuat dalam bentuk file excel. Ide pun semakin berkembang hingga akhirnya bisa membuat aplikasi iGreja yang dapat didownload secara gratis dan dapat diakses siapapun.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Romo_Yustinus_Rumanto_SJ.JPG&quot; alt=&quot;Romo Yustinus Rumanto SJ&quot; width=&quot;477&quot; height=&quot;541&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: center;&quot;&gt;Romo Yustinus Rumanto, SJ&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pandemic, KDV sudah mengadakan beberapa kegiatan seperti Latihan doa, retret dan program Kisah Kasih Allah. Di KDV sendiri ada pengumpulan dana dan Dana yang terkumpul dipakai untuk memberi bantuan atau sumbangan bagi gereja atau komunitas katolik lainnya. Selama ini dari dana yang terkumpul sudah dipakai untuk membantu korban gempa bumi di Palu dan NTT, serta proyek membuat sumur di Sumba dan juga memberi beasiswa untuk anak-anak. Informasi yang disampaikan oleh Romo Rum yang kini bertugas menjadi pengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pengajuan untuk bantuan dana ini boleh diajukan oleh siapapun namun harus lewat Lembaga katolik seperti paroki, panti asuhan, panti jompo, atau lewat sekolah. Syaratnya adalah harus lewat Lembaga, karena tim dari KDV tidak melakukan survey untuk pemberian bantuan. &lt;br /&gt;Setelah pandemic bisa dikatakan tidak ada lagi kegiatan yang bersifat temu langsung dan semuanya menjadi pertemuan online lewat link yang dibagikan di grup ataupun lewat info yang ada di iGreja. Anggota dari KDV sendiri jumlahnya sekarang menjadi ribuan dan tersebar dari seluruh wilayah Indonesia, bahkan sampai luar negeri seperti Australia, Amerika hingga Islandia, yang pastinya mereka mengerti Bahasa Indonesia karena aplikasi iGreja hanya menggunakan Bahasa Indonesia. Selain kegiatan yang sudah diinfokan pada artikel “Pendalaman Iman di Masa Pandemic” juga ada kegiatan Komsel / cell group dengan nama Berjalan Bersama Tuhan (BBT) dan Wonderace. BBT adalah komsel Persahabatan dalam Tuhan melalui pendalaman KS dari Kejadian hingga Wahyu, plus 5 tema (Paham Allah, Sejarah Doktrin Gereja, Ekaristi, Maria, Konsili Vatikan II). Caranya: menjawab pertanyaan yang ada dalam buku panduan dan sharing pengalaman iman atau kehidupan di komsel. Sementara Wonderace adalah Kelompok Dukungan Sebaya untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang universal dan abadi. Nilai-nilai kehidupan tersebut menjadi semakin konkret dan nyata lewat contoh kisah-kisah yang ditampilkan. Kisah-kisah hidup tersebut adalah kisah yang penuh kearifan dan membangkitkan inspirasi. Anda akan belajar dari orang-orang yang menjalani kehidupan dengan penuh makna, syukur, kegembiraan, penderitaan, dan tantangan. Anggota komsel bisa mendaftar secara perorangan ataupun kelompok. Komsel ini terdiri dari 5 – 10 orang, di mana merupakan kelompok persahabatan dalam waktu yang tidak terbatas. Bisa dikatakan mirip dengan Emmaus Journey tapi tidak memiliki batas waktu. Kelompok ini akan dipandu tim dari KDV dengan memberikan bahan dan fasilitator, sekitar 3 bulan. Setelah bisa berjalan sendiri, kelompok bisa mengadakan pertemuan mengikuti bahan yang disiapkan oleh KDV.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Logo_iGreja.JPG&quot; alt=&quot;Logo iGreja&quot; width=&quot;200&quot; height=&quot;200&quot; /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicermati bahwa Komunitas Dei Verbum hanya bertujuan untuk membantu umat katolik lebih aktif membaca dan dapat memahami Kitab Suci serta membantu gereja. Romo Rum menegaskan bahwa KDV tidak membentuk komunitas baru di dalam paroki maupun di dalam keuskupan, sehingga anggota selalu terbuka untuk datang dan pergi. Romo Rum bahkan pernah mendapat tanggapan dari Kardinal Ignatius Suharyo mengenai komunitas ini. Menurut Kardinal komunitas ini membantu umat untuk membaca Kitab Suci dengan mudah. Dengan adanya aplikasi iGreja sangat mempermudah untuk membaca Kitab Suci setiap hari. KDV juga didukung oleh banyak imam dari KAJ maupun keuskupan lainnya baik di dalam maupun di luar negeri. Ada beberapa pastor, frater dan juga suster juga ikut menjadi anggota KDV.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-size: 16px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Eleonora Francisca (EF)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px; text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Apa Dan Siapa" />
	</entry>
	<entry>
		<title>YMKA membuka sesi 2 bagi Warga</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/4960-ymka-membuka-sesi-2-bagi-warga"/>
		<published>2021-10-15T10:02:00+07:00</published>
		<updated>2021-10-15T10:02:00+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/4960-ymka-membuka-sesi-2-bagi-warga</id>
		<author>
			<name>Erick Stefanus Jahja</name>
			<email>erickstefanus@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p&gt;&lt;img style=&quot;display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/infonika/YMKA.PNG&quot; alt=&quot;YMKA&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc; font-size: 14pt;&quot;&gt;&lt;strong&gt;SEKARANG SUDAH BISAPESAN KAVLING NON SUSBSIDI BLOK G &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc; font-size: 14pt;&quot;&gt;&lt;strong&gt;BEBAS PILIH NOMOR, BEBAS TANPA KUOTA !&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Setelah launching sesi 1 &lt;br /&gt;melalui para Ketua Lingkungan&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;YMKA membuka sesi 2 bagi Warga&lt;br /&gt;Santa Monika Serpong untuk memiliki&lt;br /&gt;kavling makam&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Bebas Kuota, Bebas pilih Nomor&lt;br /&gt;Kavling dan bisa beberapa kavling. &lt;br /&gt;Sesuai kebutuhan keluarga.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pesan langsung melalui google form : &lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://forms.gle/uqfjbXPyKboGuR2r9&quot;&gt;https://forms.gle/uqfjbXPyKboGuR2r9&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: #3366ff;&quot;&gt;Untuk informasi dan keterangan lebih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: #3366ff;&quot;&gt;lanjut silahkan hubungi:&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanu (0818666258),&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sunaryo (081315165070),&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suzan (082129780364)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p&gt;&lt;img style=&quot;display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/infonika/YMKA.PNG&quot; alt=&quot;YMKA&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc; font-size: 14pt;&quot;&gt;&lt;strong&gt;SEKARANG SUDAH BISAPESAN KAVLING NON SUSBSIDI BLOK G &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: #33cccc; font-size: 14pt;&quot;&gt;&lt;strong&gt;BEBAS PILIH NOMOR, BEBAS TANPA KUOTA !&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Setelah launching sesi 1 &lt;br /&gt;melalui para Ketua Lingkungan&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;YMKA membuka sesi 2 bagi Warga&lt;br /&gt;Santa Monika Serpong untuk memiliki&lt;br /&gt;kavling makam&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Bebas Kuota, Bebas pilih Nomor&lt;br /&gt;Kavling dan bisa beberapa kavling. &lt;br /&gt;Sesuai kebutuhan keluarga.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pesan langsung melalui google form : &lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://forms.gle/uqfjbXPyKboGuR2r9&quot;&gt;https://forms.gle/uqfjbXPyKboGuR2r9&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: #3366ff;&quot;&gt;Untuk informasi dan keterangan lebih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: #3366ff;&quot;&gt;lanjut silahkan hubungi:&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanu (0818666258),&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sunaryo (081315165070),&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suzan (082129780364)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Apa Dan Siapa" />
	</entry>
	<entry>
		<title>VIVI JULIATI - Berbagi Maka Akan Berlipat Ganda</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/4661-vivi-juliati-berbagi-maka-akan-berlipat-ganda"/>
		<published>2019-06-11T10:56:09+07:00</published>
		<updated>2019-06-11T10:56:09+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/4661-vivi-juliati-berbagi-maka-akan-berlipat-ganda</id>
		<author>
			<name>Florensia Damayanti</name>
			<email>florensia.damayanti@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Berbagi Maka Akan Berlipat Ganda&lt;/strong&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/vivi.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tak jemu Vivi menunggu di selasar Rumah Sakit St. Carolus Gading Serpong. Gadis kecilnya, Angela Magdalena, sedang dalam kondisi kritis dan dirawat di ruang intensif. Begitu dalam cinta Vivi kepada Magda. Bocah yang tidak dikehendaki oleh ibu kandungnya itu telah menjadi malaikat kecil dalam hidup Vivi. Upaya terbaik untuk kesembuhan Magda telah dilakukan, namun Tuhan berkehendak lain. Magda kembali ke Sang Pencipta pada 22 September 2018 dalam usia lima tahun.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berbagai mukjizat dirasakan Vivi tatkala ia bergulat dalam perawatan Magda. Biaya rumah sakit yang membuncit, dalam sekejap dapat terbayar. Bantuan para donatur mengalir deras hingga melampaui kebutuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PERGULATAN MENDIRIKAN PANTI ASUHAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sejak remaja, Vivi telah aktif sebagai pembina Bina Iman Anak. Aktivitas ini berlanjut hingga saat ini. Totalitasnya dalam pelayanan ini mendorongnya untuk mempunyai tempat yang lapang bagi kegiatan BIA di lingkungan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; Ia merasakan campur tangan Tuhan untuk mendapatkan rumah di Puspita Loka BSD di Lingkungan Santo Hironimus, yang sekarang menjadi Panti Asuhan Suaka Kasih Bunda. Awalnya, dorongan pastor pembimbingnya —Franz Liman CICM— untuk mendirikan panti asuhan belum menarik minatnya. Ia membayangkan berbagai kesulitan yang akan dia temui saat mendirikan sebuah panti asuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pengalaman menjadi volunteer dalam kegiatan sosial membuatnya berkecil hati untuk mewujudkan dorongan Romo Franz. Siapa saja yang mau bergabung? Bagaimana mengajak orang bergabung? Bagaimana perizinannya? Saat ia berdoa di Gereja Ganjuran, ada bisikan dalam doanya,“Terjadilah kehendak-Ku, engkau adalah pengantara.”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di luar dugaan, berbagai kemudahan ia dapatkan saat mendirikan panti pada tahun 2012. “Dalam seminggu, beberapa teman bergabung menjadi pengurus panti,” tuturnya. Pembuatan akta pendirian dibantu notaris yang sudah biasa mengurus akta panti. Pengasuh panti yang tepat pun ia dapatkan dengan mudah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berbagi Maka Akan Berlipat Ganda “Tolong Dokter, sembuhkan dia...,” ratap Vivi Juliati saat mendampingi anak asuhnya di rumah sakit. Sudah berhari-hari ia berjaga di rumah sakit.Ia tidak pernah memilih anak-anak yang akan diasuhnya. Bayi mungil dari berbagai suku dan agama diterimanya dengan kasih. Vivi memberikan namanama indah untuk mereka: James, Alby Kitaro, Jennifer, dan lainnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semua anak memanggilnya ‘Bunda’ karena mereka merasakan cintanya yang sangat tulus. “Karena saya Katolik, maka saya didik mereka sesuai keyakinan saya,” ungkapnya. Kondisi ke depan, terserah masing-masing anak karena latar belakang mereka berbeda-beda. Namun, ia selalu mengajarkan kasih, kebhinnekaan, dan berbagi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;YANG TERBAIK UNTUK ANAK-ANAK&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Vivi berkomitmen memberikan yang terbaik bagi anakanak panti. Ia mengupayakan Air Susu Ibu (ASI) bagi bayibayi yang diasuhnya. Mencari ASI menjadi petualangan tersendiri yang pernah dirasakannya. Ia harus mengambil ASI di suatu tempat berapapun jumlahnya. Suatu saat, stok ASI tinggal dua kantong sementara mendadak ada orang lain yang membutuhkan. Vivi ikhlas memberikannya meski ia tidak tahu dari mana lagi bisa diperoleh ASI untuk bayi di panti. Namun, ia selalu berkeyakinan setiap kita berbagi —apalagi dari kekurangan— Tuhan akan menggandakannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Keyakinannya terbukti. Seorang ibu yang tidak dikenalnya meneleponnya untuk mengambil ASI dalam jumlah berlimpah, ditambah popok sekali pakai, botol susu, dan dana sumbangan. “Setelah itu, ibu itu tidak pernah menghubungi lagi, seperti malaikat yang dikirim Tuhan tepat pada waktunya,” kenangnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kini, panti asuhan yang dikelolanya tidak pernah kekurangan ASI. Selalu ada yang menyumbang, bahkan mengirim sampai di tempat. Sumbangan dari donatur lain sering diterimanya dalam berbagai bentuk. “Pernah ada seorang Muslim yang mengirim lebih dari 100 ekor ayam potong karena nazarnya setelah panen,” beber Vivi. Jumlah ini melampaui kebutuhan panti selama beberapa hari. Istri Budi Santoso ini pun meminta izin kepada penyumbangnya agar boleh membagikan ayam-ayam itu ke panti lain yang membutuhkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Vivi sangat memperhatikan kondisi anak asuhnya. Ia rutin membawa beberapa anak yang mengalami gangguan mata dan hyperaktif untuk tusuk jarum. Ia juga mengurus BPJS agar ke 18 anak asuhnya mendapatkan jaminan kesehatan. Tak hanya memperhatikan kesehatan anak asuhnya, Vivi juga mengupayakan kelengkapan akta kelahiran mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bantuan dari Ikatan Kewarganegaraan Indonesia ia dapatkan saat mengurus akta kelahiran. Kemudahan ini pun ia tularkan ke panti asuhan lainnya, seperti Mekar Lestari dan Bhakti Luhur.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di sela-sela kesibukannya bekerja di sebuah perusahaan garmen, Vivi menanamkan karakter yang baik pada anak-anak. “Membentuk karakter anak yang berbeda-beda asal-usulnya merupakan tantangan tersendiri,” ungkapnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pembentukan karakter anak-anak tidak serta-merta ia serahkan kepada pengasuh panti. Semangat berbagi, saling mengasihi sebagai satu keluarga, dan minta maaf jika salah selalu ia tanamkan. Hari Natal menjadi momen berbagi yang ia contohkan kepada anak-anak asuhnya. Ibu dua remaja ini mengajar anak-anak asuhnya menyisihkan tabungan untuk diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Berbagi adalah keharusan. Pada kenyataannya, dengan berbagi, panti yang dikelolanya tidak pernah kekurangan. (Winda Susanto)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Berbagi Maka Akan Berlipat Ganda&lt;/strong&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/vivi.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt; &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tak jemu Vivi menunggu di selasar Rumah Sakit St. Carolus Gading Serpong. Gadis kecilnya, Angela Magdalena, sedang dalam kondisi kritis dan dirawat di ruang intensif. Begitu dalam cinta Vivi kepada Magda. Bocah yang tidak dikehendaki oleh ibu kandungnya itu telah menjadi malaikat kecil dalam hidup Vivi. Upaya terbaik untuk kesembuhan Magda telah dilakukan, namun Tuhan berkehendak lain. Magda kembali ke Sang Pencipta pada 22 September 2018 dalam usia lima tahun.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berbagai mukjizat dirasakan Vivi tatkala ia bergulat dalam perawatan Magda. Biaya rumah sakit yang membuncit, dalam sekejap dapat terbayar. Bantuan para donatur mengalir deras hingga melampaui kebutuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PERGULATAN MENDIRIKAN PANTI ASUHAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sejak remaja, Vivi telah aktif sebagai pembina Bina Iman Anak. Aktivitas ini berlanjut hingga saat ini. Totalitasnya dalam pelayanan ini mendorongnya untuk mempunyai tempat yang lapang bagi kegiatan BIA di lingkungan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; Ia merasakan campur tangan Tuhan untuk mendapatkan rumah di Puspita Loka BSD di Lingkungan Santo Hironimus, yang sekarang menjadi Panti Asuhan Suaka Kasih Bunda. Awalnya, dorongan pastor pembimbingnya —Franz Liman CICM— untuk mendirikan panti asuhan belum menarik minatnya. Ia membayangkan berbagai kesulitan yang akan dia temui saat mendirikan sebuah panti asuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pengalaman menjadi volunteer dalam kegiatan sosial membuatnya berkecil hati untuk mewujudkan dorongan Romo Franz. Siapa saja yang mau bergabung? Bagaimana mengajak orang bergabung? Bagaimana perizinannya? Saat ia berdoa di Gereja Ganjuran, ada bisikan dalam doanya,“Terjadilah kehendak-Ku, engkau adalah pengantara.”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di luar dugaan, berbagai kemudahan ia dapatkan saat mendirikan panti pada tahun 2012. “Dalam seminggu, beberapa teman bergabung menjadi pengurus panti,” tuturnya. Pembuatan akta pendirian dibantu notaris yang sudah biasa mengurus akta panti. Pengasuh panti yang tepat pun ia dapatkan dengan mudah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berbagi Maka Akan Berlipat Ganda “Tolong Dokter, sembuhkan dia...,” ratap Vivi Juliati saat mendampingi anak asuhnya di rumah sakit. Sudah berhari-hari ia berjaga di rumah sakit.Ia tidak pernah memilih anak-anak yang akan diasuhnya. Bayi mungil dari berbagai suku dan agama diterimanya dengan kasih. Vivi memberikan namanama indah untuk mereka: James, Alby Kitaro, Jennifer, dan lainnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semua anak memanggilnya ‘Bunda’ karena mereka merasakan cintanya yang sangat tulus. “Karena saya Katolik, maka saya didik mereka sesuai keyakinan saya,” ungkapnya. Kondisi ke depan, terserah masing-masing anak karena latar belakang mereka berbeda-beda. Namun, ia selalu mengajarkan kasih, kebhinnekaan, dan berbagi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;YANG TERBAIK UNTUK ANAK-ANAK&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Vivi berkomitmen memberikan yang terbaik bagi anakanak panti. Ia mengupayakan Air Susu Ibu (ASI) bagi bayibayi yang diasuhnya. Mencari ASI menjadi petualangan tersendiri yang pernah dirasakannya. Ia harus mengambil ASI di suatu tempat berapapun jumlahnya. Suatu saat, stok ASI tinggal dua kantong sementara mendadak ada orang lain yang membutuhkan. Vivi ikhlas memberikannya meski ia tidak tahu dari mana lagi bisa diperoleh ASI untuk bayi di panti. Namun, ia selalu berkeyakinan setiap kita berbagi —apalagi dari kekurangan— Tuhan akan menggandakannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Keyakinannya terbukti. Seorang ibu yang tidak dikenalnya meneleponnya untuk mengambil ASI dalam jumlah berlimpah, ditambah popok sekali pakai, botol susu, dan dana sumbangan. “Setelah itu, ibu itu tidak pernah menghubungi lagi, seperti malaikat yang dikirim Tuhan tepat pada waktunya,” kenangnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kini, panti asuhan yang dikelolanya tidak pernah kekurangan ASI. Selalu ada yang menyumbang, bahkan mengirim sampai di tempat. Sumbangan dari donatur lain sering diterimanya dalam berbagai bentuk. “Pernah ada seorang Muslim yang mengirim lebih dari 100 ekor ayam potong karena nazarnya setelah panen,” beber Vivi. Jumlah ini melampaui kebutuhan panti selama beberapa hari. Istri Budi Santoso ini pun meminta izin kepada penyumbangnya agar boleh membagikan ayam-ayam itu ke panti lain yang membutuhkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Vivi sangat memperhatikan kondisi anak asuhnya. Ia rutin membawa beberapa anak yang mengalami gangguan mata dan hyperaktif untuk tusuk jarum. Ia juga mengurus BPJS agar ke 18 anak asuhnya mendapatkan jaminan kesehatan. Tak hanya memperhatikan kesehatan anak asuhnya, Vivi juga mengupayakan kelengkapan akta kelahiran mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bantuan dari Ikatan Kewarganegaraan Indonesia ia dapatkan saat mengurus akta kelahiran. Kemudahan ini pun ia tularkan ke panti asuhan lainnya, seperti Mekar Lestari dan Bhakti Luhur.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di sela-sela kesibukannya bekerja di sebuah perusahaan garmen, Vivi menanamkan karakter yang baik pada anak-anak. “Membentuk karakter anak yang berbeda-beda asal-usulnya merupakan tantangan tersendiri,” ungkapnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pembentukan karakter anak-anak tidak serta-merta ia serahkan kepada pengasuh panti. Semangat berbagi, saling mengasihi sebagai satu keluarga, dan minta maaf jika salah selalu ia tanamkan. Hari Natal menjadi momen berbagi yang ia contohkan kepada anak-anak asuhnya. Ibu dua remaja ini mengajar anak-anak asuhnya menyisihkan tabungan untuk diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Berbagi adalah keharusan. Pada kenyataannya, dengan berbagi, panti yang dikelolanya tidak pernah kekurangan. (Winda Susanto)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;/p&gt;</content>
		<category term="Apa Dan Siapa" />
	</entry>
	<entry>
		<title>Mariana Florentina Setto, Ketua OMK Sanmon</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/1312-mariana-florentina-setto-ketua-omk-sanmon"/>
		<published>2018-04-20T15:11:14+07:00</published>
		<updated>2018-04-20T15:11:14+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/1312-mariana-florentina-setto-ketua-omk-sanmon</id>
		<author>
			<name>Florensia Damayanti</name>
			<email>florensia.damayanti@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Mariana Florentina Setto - Ketua OMK Sanmon&lt;/h1&gt;

&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;“Manajemen Waktu untuk Tuhan”&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;436&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/IMG-20180420-WA0026.jpg&quot; width=&quot;436&quot; /&gt;&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;OMK adalah Orang Muda Katolik, beranggotakan orang-orang muda yang fresh, muda dan bergairah. Seperti lagu yang dilantunkan Roma Irama – Darah Muda, darahnya para remaja. Di mana para remaja masih mencari “jati diri”, belum stabil, dan berapi-api. OMK mempunyai peran dalam mengarahkan para kaum muda untuk menyalurkan gairah muda tersebut. Kriteria yang termasuk Orang Muda Katolik adalah Orang Muda yang berumur antara 13 tahun – 35 tahun, belum menikah, tentunya beragama Katolik.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Setiap organisasi atau komunitas mempunyai pemimpin. Tentunya pemimpin yang menjadi leader bagi kepemudaan Katolik yang dapat mengarahkan “kreatifitas” tak terbatas yang dimiliki kaum muda secara optimal, “pencarian jati diri” dan yang terpenting “pelayanan” kepada Tuhan. Panggil saja Renny, nama lengkap Mariana Florentina Setto, ketua OMK yang cantik nan jelita ini menjabat di periode 2018-2020 menjalankan tugas pemimpin Orang Muda Katolik, Santa Monika Serpong Tangerang.&lt;br /&gt;
Renny lahir di Jakarta, 1 Agustus 1994. Tinggal di daerah Cisauk, Tangerang bersama kedua orang tua dan adiknya. Aktif dalam berorganisasi di dalam Gereja maupun di luar Gereja. Lulus sarjana Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi dan sekarang telah bekerja di perusahaan distributor dan suplier kabel di Tangerang. Rencananya akan melanjutkan S2 dengan fakultas yang sama, tetapi karena adik yang masih berkebutuhan untuk kuliah, maka Renny menunda keinginannya untuk melanjutkan pendidikan dan bekerja untuk mengumpulkan dana kuliah. Selain aktif di organisasi Gereja, Renny juga aktif di komunitas “Kumpulan Orang Flores se-Tangerang” sebagai Bendahara. Posisi yang cukup menakjubkan, bukan? Komunitas tersebut beranggotakan saudara-saudari kita yang merantau dari tanah timur, Flores. Pada waktu yang lalu, komunitas tersebut mengadakan pertandingan sepak bola se-Tangerang dan Walikota Tangerang juga ikut menonton dan membuka acara tersebut dengan meriah.&lt;br /&gt;
Walaupun di tengah jadwal yang begitu padat, Renny tetap meluangkan waktu untuk melayani Tuhan di Gereja Santa Monika. “Pinter-pinter bagi waktu aja antara kegiatan melayani dan kegiatan di luar”, ujar Renny. Ini adalah kali pertama Renny menjabat sebagai Ketua OMK Santa Monika, Serpong Tangerang, setelah sekian lama aktif di dunia per-OMK-an, akhirnya doi memberanikan diri untuk maju memimpin para kaum muda Katolik. Bahkan, event pertama yang diikuti adalah SYD (Sanmon Youth Day) pada tahun 2017. Kegiatan lainnya di OMK adalah menjadi kakak pendamping BIA (Bina Iman Anak), salah satu kategorial di OMK, guna memberi contoh dan teladan di kehidupan sehari-hari, serta menghibur anak-anak dengan menyanyi, games, dll supaya anak-anak tidak cepat bosan dengan kegiatan BIA yang terkesan monoton. Terlihat Renny tidak hanya berkompeten sebagai pemimpin yang tegas untuk remaja, namun kreatif dan sifat keibuan pun terlihat dalam menemani anak-anak.&lt;/div&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;

&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;399&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/renni1.jpg&quot; width=&quot;402&quot; /&gt;&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Renny sebagai Ketua OMK juga mempunyai kebiasaan yang lumayan unik yaitu pelupa. Tetapi lupa pada hal kecil, seperti kunci, HP dan barang-barang kecil lainnya. “Pernah waktu itu, gue abis turun motor, terus ninggalin motor, eh kunci motor ketinggalan, haha, untungnya tidak hilang dan bawa STNK waktu itu”, ujar Renny. Kegiatan OMK harus di-barengi dengan perencanaan yang matang. Setiap 3 minggu sekali, Renny bersama anggota yang lain mengadakan rapat, “Kita biasanya mengadakan rapat di Aula Gereja sih, kalau bosan ya di restoran. Kita patungan dua ribu aja masing-masing, lalu bilang ke pelayannya, Mas, ini aja ya, sisanya ya tolong diberikan dengan cinta kasih”, canda Renny dengan tertawa manisnya. Begitu juga rapat-rapat dalam menyusun proposal, setiap acaranya diperlukan tanda tangan sang Ketua OMK, “Udah kayak artis, dimintai tanda tangan”, ujar Renny. Memang diakui, Ketua OMK yang satu ini adalah orang yang sangat ceria, cocok dengan anak muda yang penuh keceriaan. Di bawah OMK, terdapat 10 kategorial yang berbeda dan setiap kategorial mempunyai ketuanya masing-masing. Sepuluh kategorial tersebut adalah&lt;br /&gt;
1. KTM : Komunitas Tritunggal Mahakudus&lt;br /&gt;
2. YnC : Youth in Christ&lt;br /&gt;
3. EJ : Emmaus Journey Senior maupun Junior&lt;br /&gt;
4. BIR : Bina Iman Remaja yang termasuk Bina Iman Anak di mana Renny juga ikut bergabung menjadi pendamping&lt;br /&gt;
5. PakSnK : Pendidikan Agama Katolik Sekolah Non Katolik&lt;br /&gt;
6. Roses&lt;br /&gt;
7. Antiokhia&lt;br /&gt;
8. Pa-Ps : Putra Altar – Putri Sakristi&lt;br /&gt;
9. Legio Maria dibagi menjadi 3 yaitu Legio Anak, Legio Remaja, dan Legio Umum&lt;br /&gt;
10. KKMK : Komunitas Karyawan Muda Katolik.&lt;/div&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;

&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;436&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/renni2.jpg&quot; width=&quot;436&quot; /&gt;&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai Ketua OMK SanMon Serpong, Tangerang, Renny memiliki suka duka yang sudah dijalaninya bersama para pengurus lainnya. Ia mengaku senang dapat melayani Tuhan dengan cara Anak Muda dan Tuhan juga pasti senang dengan hal tersebut. Tentunya pelayanan yang seturut kehendak-Nya. Terkadang ada saja kerikil yang menjadi batu sandungan, seperti perbedaan pendapat antar anggota OMK, tetapi hal tersebut dapat diatasinya. Hal itu dianggapnya sebagai proses yang wajar dan ujian yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita. (KT)&lt;/div&gt;
</summary>
		<content type="html">&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Mariana Florentina Setto - Ketua OMK Sanmon&lt;/h1&gt;

&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;“Manajemen Waktu untuk Tuhan”&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;436&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/IMG-20180420-WA0026.jpg&quot; width=&quot;436&quot; /&gt;&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;OMK adalah Orang Muda Katolik, beranggotakan orang-orang muda yang fresh, muda dan bergairah. Seperti lagu yang dilantunkan Roma Irama – Darah Muda, darahnya para remaja. Di mana para remaja masih mencari “jati diri”, belum stabil, dan berapi-api. OMK mempunyai peran dalam mengarahkan para kaum muda untuk menyalurkan gairah muda tersebut. Kriteria yang termasuk Orang Muda Katolik adalah Orang Muda yang berumur antara 13 tahun – 35 tahun, belum menikah, tentunya beragama Katolik.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Setiap organisasi atau komunitas mempunyai pemimpin. Tentunya pemimpin yang menjadi leader bagi kepemudaan Katolik yang dapat mengarahkan “kreatifitas” tak terbatas yang dimiliki kaum muda secara optimal, “pencarian jati diri” dan yang terpenting “pelayanan” kepada Tuhan. Panggil saja Renny, nama lengkap Mariana Florentina Setto, ketua OMK yang cantik nan jelita ini menjabat di periode 2018-2020 menjalankan tugas pemimpin Orang Muda Katolik, Santa Monika Serpong Tangerang.&lt;br /&gt;
Renny lahir di Jakarta, 1 Agustus 1994. Tinggal di daerah Cisauk, Tangerang bersama kedua orang tua dan adiknya. Aktif dalam berorganisasi di dalam Gereja maupun di luar Gereja. Lulus sarjana Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi dan sekarang telah bekerja di perusahaan distributor dan suplier kabel di Tangerang. Rencananya akan melanjutkan S2 dengan fakultas yang sama, tetapi karena adik yang masih berkebutuhan untuk kuliah, maka Renny menunda keinginannya untuk melanjutkan pendidikan dan bekerja untuk mengumpulkan dana kuliah. Selain aktif di organisasi Gereja, Renny juga aktif di komunitas “Kumpulan Orang Flores se-Tangerang” sebagai Bendahara. Posisi yang cukup menakjubkan, bukan? Komunitas tersebut beranggotakan saudara-saudari kita yang merantau dari tanah timur, Flores. Pada waktu yang lalu, komunitas tersebut mengadakan pertandingan sepak bola se-Tangerang dan Walikota Tangerang juga ikut menonton dan membuka acara tersebut dengan meriah.&lt;br /&gt;
Walaupun di tengah jadwal yang begitu padat, Renny tetap meluangkan waktu untuk melayani Tuhan di Gereja Santa Monika. “Pinter-pinter bagi waktu aja antara kegiatan melayani dan kegiatan di luar”, ujar Renny. Ini adalah kali pertama Renny menjabat sebagai Ketua OMK Santa Monika, Serpong Tangerang, setelah sekian lama aktif di dunia per-OMK-an, akhirnya doi memberanikan diri untuk maju memimpin para kaum muda Katolik. Bahkan, event pertama yang diikuti adalah SYD (Sanmon Youth Day) pada tahun 2017. Kegiatan lainnya di OMK adalah menjadi kakak pendamping BIA (Bina Iman Anak), salah satu kategorial di OMK, guna memberi contoh dan teladan di kehidupan sehari-hari, serta menghibur anak-anak dengan menyanyi, games, dll supaya anak-anak tidak cepat bosan dengan kegiatan BIA yang terkesan monoton. Terlihat Renny tidak hanya berkompeten sebagai pemimpin yang tegas untuk remaja, namun kreatif dan sifat keibuan pun terlihat dalam menemani anak-anak.&lt;/div&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;

&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;399&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/renni1.jpg&quot; width=&quot;402&quot; /&gt;&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Renny sebagai Ketua OMK juga mempunyai kebiasaan yang lumayan unik yaitu pelupa. Tetapi lupa pada hal kecil, seperti kunci, HP dan barang-barang kecil lainnya. “Pernah waktu itu, gue abis turun motor, terus ninggalin motor, eh kunci motor ketinggalan, haha, untungnya tidak hilang dan bawa STNK waktu itu”, ujar Renny. Kegiatan OMK harus di-barengi dengan perencanaan yang matang. Setiap 3 minggu sekali, Renny bersama anggota yang lain mengadakan rapat, “Kita biasanya mengadakan rapat di Aula Gereja sih, kalau bosan ya di restoran. Kita patungan dua ribu aja masing-masing, lalu bilang ke pelayannya, Mas, ini aja ya, sisanya ya tolong diberikan dengan cinta kasih”, canda Renny dengan tertawa manisnya. Begitu juga rapat-rapat dalam menyusun proposal, setiap acaranya diperlukan tanda tangan sang Ketua OMK, “Udah kayak artis, dimintai tanda tangan”, ujar Renny. Memang diakui, Ketua OMK yang satu ini adalah orang yang sangat ceria, cocok dengan anak muda yang penuh keceriaan. Di bawah OMK, terdapat 10 kategorial yang berbeda dan setiap kategorial mempunyai ketuanya masing-masing. Sepuluh kategorial tersebut adalah&lt;br /&gt;
1. KTM : Komunitas Tritunggal Mahakudus&lt;br /&gt;
2. YnC : Youth in Christ&lt;br /&gt;
3. EJ : Emmaus Journey Senior maupun Junior&lt;br /&gt;
4. BIR : Bina Iman Remaja yang termasuk Bina Iman Anak di mana Renny juga ikut bergabung menjadi pendamping&lt;br /&gt;
5. PakSnK : Pendidikan Agama Katolik Sekolah Non Katolik&lt;br /&gt;
6. Roses&lt;br /&gt;
7. Antiokhia&lt;br /&gt;
8. Pa-Ps : Putra Altar – Putri Sakristi&lt;br /&gt;
9. Legio Maria dibagi menjadi 3 yaitu Legio Anak, Legio Remaja, dan Legio Umum&lt;br /&gt;
10. KKMK : Komunitas Karyawan Muda Katolik.&lt;/div&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;

&lt;h1 style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; height=&quot;436&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/renni2.jpg&quot; width=&quot;436&quot; /&gt;&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai Ketua OMK SanMon Serpong, Tangerang, Renny memiliki suka duka yang sudah dijalaninya bersama para pengurus lainnya. Ia mengaku senang dapat melayani Tuhan dengan cara Anak Muda dan Tuhan juga pasti senang dengan hal tersebut. Tentunya pelayanan yang seturut kehendak-Nya. Terkadang ada saja kerikil yang menjadi batu sandungan, seperti perbedaan pendapat antar anggota OMK, tetapi hal tersebut dapat diatasinya. Hal itu dianggapnya sebagai proses yang wajar dan ujian yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita. (KT)&lt;/div&gt;
</content>
		<category term="Apa Dan Siapa" />
	</entry>
	<entry>
		<title>Natanael Kevin Dwantara, pemeran Yesus saat tablo Jumat Agung 30 April 2018</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/443-natanael-kevin-dwantara-pemeran-yesus-saat-tablo-jumat-agung-30-april-2018"/>
		<published>2018-04-19T11:15:57+07:00</published>
		<updated>2018-04-19T11:15:57+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/443-natanael-kevin-dwantara-pemeran-yesus-saat-tablo-jumat-agung-30-april-2018</id>
		<author>
			<name>Florensia Damayanti</name>
			<email>florensia.damayanti@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;h1 align=&quot;center&quot;&gt;Natanael Kevin Dwantara&lt;/h1&gt;

&lt;h1 align=&quot;center&quot;&gt;Pakailah Aku sebagai AlatMu&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;pull-center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-image-widget-flowlayout=&quot;1&quot; height=&quot;376&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Nael-1.jpg&quot; style=&quot;&quot; width=&quot;376&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Natanael Kevin Dwantara, sang pemeran Yesus saat acara tablo Jumat Agung, 30 Maret 2018, akrab dipanggil Nael di kalangan teman sekitarnya. Peran yang unik dan langka inilah yang menarik perhatian jurnalis website Paroki Monika untuk mengulik lebih dalam tentang dirinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nael adalah pengurus OMK yang cukup aktif di gereja untuk menyelenggarakan berbagai acara dengan tujuan melayani Tuhan. Salah satu kegiatannya adalah pengurus OMK di bagian Tour De Sanmon, mengunjungi rumah-rumah di lingkungan untuk menyentuh hati anak muda yang belum aktif melayani Tuhan. Sungguh mulia pelayanannya!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pria kelahiran Jakarta, 23 Desember 1995 ini bertempat tinggal di dekat ICE BSD, Tangerang. Pernah berkuliah di Universitas Atma Jaya, Jakarta, juga pernah bersekolah di Emmanuel School of Mission Manila. Tinggal dengan Ibunda dan kedua adik sedangkan Ayahanda telah dipanggil Tuhan ke sisi-Nya karena serangan jantung. Walaupun telah ditinggalkan oleh Ayahanda, Nael tidak pernah mengeluh dan terus sabar menjalani hidup dengan ibu dan kedua adik yang masing-masing masih duduk di bangku pendidikan. Adik yang pertama masih di kelas 2 SMK, sedangkan Adik yang kedua di bangku perkuliahan di Sentul, “Mereka tidak pernah mengeluh &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt;”, kata Nael. Lagipula adik yang kedua juga dibiayai dan digaji di sana, fasilitas juga memadai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat Ayahanda dipanggil Tuhan, memang Nael sempat &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt;, sekilas terpikir untuk melanjutkan kuliah atau langsung kerja saja karena kejadian yang terlalu mendadak ini. Memikirkan tentang Ibu yang berprofesi sebagai guru SD, takut membebani Ibu yang seorang diri untuk membiayai kehidupan 3 orang anak, apalagi menyadari bahwa diri adalah seorang anak sulung yang wajib menjadi contoh bagi kedua adiknya. Sementara mencari pekerjaan tetap sebagai admin, Nael mencari nafkah dengan bergabung dengan taksi online.&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;pull-center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-image-widget-flowlayout=&quot;1&quot; height=&quot;384&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Nael-2.jpg&quot; style=&quot;&quot; width=&quot;511&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di tengah kesibukannya yang cukup padat, Nael tidak lupa untuk tetap bersyukur dan melayani. Kisah yang paling menarik adalah ketika Nael merasakan peran sebagai Yesus dalam acara Tablo di gereja Santa Monika BSD, Tangerang. Memang bukan keinginannya untuk mengambil peran tersebut, “tadinya memang ditunjuk oleh Karel Bryan, PIC Tablo OMK SanMon 2018”, tapi karena tidak ada yang bersedia, maka sikap totalitas melayani Tuhan muncul dan Nael bersedia untuk mengambil peran penting tersebut. “Pakailah aku sebagai alat-Mu ya Tuhan dalam memerankan diri-Mu.”, demikian pengakuan Nael saat diwawancarai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam jangka waktu kurang dari satu bulan, seiring dengan bulan pertobatan, puasa dan pantang yang diawali dengan hari Rabu Abu, persiapan pemeran Yesus pun disiapkan. Latihan dijalani 2 kali seminggu dan menjadi 4-5 kali seminggu menjelang hari pementasan. Berbagai hambatan dilalui mulai dari kurangnya &lt;em&gt;flooring &lt;/em&gt;dalam gereja karena banyaknya kegiatan yang dilakukan di dalam gereja sampai &lt;em&gt;microphone &lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang kurang keras ketika pementasan. Di situasi saat ini pun Nael menjalani berpuasa untuk mendalami peran Yesus dalam dirinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Salibnya terasa lebih berat daripada yang ada di latihan”, aku Nael. Nael tetap tidak mengeluh dan tetap menyelesaikan tugasnya dalam memerankan peran itu. Tempat Yesus terjatuh pun disesuaikan, jatuh pertama kali aman, jatuh kedua kali aman, BRUKK! Jatuh ketiga kali, salah mengambil teknik jatuh dan salib pun menimpa kepalanya. Saat itu &lt;em&gt;freeze&lt;/em&gt; dan ia merasa saat itu sangat lama, terpikir bagaimana menjadi Yesus yang sesungguhnya, pastilah sangat berat. Selalu teringat pada tujuannya, Nael tetap melanjutkan tugasnya sampai selesai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nael bersyukur saat pementasan sudah selesai. Ia berharap pementasannya dapat menggambarkan bagaimana Yesus menderita sampai wafat di kayu salib, serta menyerahkan sisanya kepada Tuhan dalam menggerakkan hati umat untuk meneladani Yesus sebagai pedoman hidup kita sebagai umat Katolik yang aktif melayani Tuhan. (KT)&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;h1 align=&quot;center&quot;&gt;Natanael Kevin Dwantara&lt;/h1&gt;

&lt;h1 align=&quot;center&quot;&gt;Pakailah Aku sebagai AlatMu&lt;/h1&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;pull-center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-image-widget-flowlayout=&quot;1&quot; height=&quot;376&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Nael-1.jpg&quot; style=&quot;&quot; width=&quot;376&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Natanael Kevin Dwantara, sang pemeran Yesus saat acara tablo Jumat Agung, 30 Maret 2018, akrab dipanggil Nael di kalangan teman sekitarnya. Peran yang unik dan langka inilah yang menarik perhatian jurnalis website Paroki Monika untuk mengulik lebih dalam tentang dirinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nael adalah pengurus OMK yang cukup aktif di gereja untuk menyelenggarakan berbagai acara dengan tujuan melayani Tuhan. Salah satu kegiatannya adalah pengurus OMK di bagian Tour De Sanmon, mengunjungi rumah-rumah di lingkungan untuk menyentuh hati anak muda yang belum aktif melayani Tuhan. Sungguh mulia pelayanannya!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pria kelahiran Jakarta, 23 Desember 1995 ini bertempat tinggal di dekat ICE BSD, Tangerang. Pernah berkuliah di Universitas Atma Jaya, Jakarta, juga pernah bersekolah di Emmanuel School of Mission Manila. Tinggal dengan Ibunda dan kedua adik sedangkan Ayahanda telah dipanggil Tuhan ke sisi-Nya karena serangan jantung. Walaupun telah ditinggalkan oleh Ayahanda, Nael tidak pernah mengeluh dan terus sabar menjalani hidup dengan ibu dan kedua adik yang masing-masing masih duduk di bangku pendidikan. Adik yang pertama masih di kelas 2 SMK, sedangkan Adik yang kedua di bangku perkuliahan di Sentul, “Mereka tidak pernah mengeluh &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt;”, kata Nael. Lagipula adik yang kedua juga dibiayai dan digaji di sana, fasilitas juga memadai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat Ayahanda dipanggil Tuhan, memang Nael sempat &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt;, sekilas terpikir untuk melanjutkan kuliah atau langsung kerja saja karena kejadian yang terlalu mendadak ini. Memikirkan tentang Ibu yang berprofesi sebagai guru SD, takut membebani Ibu yang seorang diri untuk membiayai kehidupan 3 orang anak, apalagi menyadari bahwa diri adalah seorang anak sulung yang wajib menjadi contoh bagi kedua adiknya. Sementara mencari pekerjaan tetap sebagai admin, Nael mencari nafkah dengan bergabung dengan taksi online.&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;pull-center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; data-image-widget-flowlayout=&quot;1&quot; height=&quot;384&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/Nael-2.jpg&quot; style=&quot;&quot; width=&quot;511&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di tengah kesibukannya yang cukup padat, Nael tidak lupa untuk tetap bersyukur dan melayani. Kisah yang paling menarik adalah ketika Nael merasakan peran sebagai Yesus dalam acara Tablo di gereja Santa Monika BSD, Tangerang. Memang bukan keinginannya untuk mengambil peran tersebut, “tadinya memang ditunjuk oleh Karel Bryan, PIC Tablo OMK SanMon 2018”, tapi karena tidak ada yang bersedia, maka sikap totalitas melayani Tuhan muncul dan Nael bersedia untuk mengambil peran penting tersebut. “Pakailah aku sebagai alat-Mu ya Tuhan dalam memerankan diri-Mu.”, demikian pengakuan Nael saat diwawancarai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam jangka waktu kurang dari satu bulan, seiring dengan bulan pertobatan, puasa dan pantang yang diawali dengan hari Rabu Abu, persiapan pemeran Yesus pun disiapkan. Latihan dijalani 2 kali seminggu dan menjadi 4-5 kali seminggu menjelang hari pementasan. Berbagai hambatan dilalui mulai dari kurangnya &lt;em&gt;flooring &lt;/em&gt;dalam gereja karena banyaknya kegiatan yang dilakukan di dalam gereja sampai &lt;em&gt;microphone &lt;/em&gt;&amp;nbsp;yang kurang keras ketika pementasan. Di situasi saat ini pun Nael menjalani berpuasa untuk mendalami peran Yesus dalam dirinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Salibnya terasa lebih berat daripada yang ada di latihan”, aku Nael. Nael tetap tidak mengeluh dan tetap menyelesaikan tugasnya dalam memerankan peran itu. Tempat Yesus terjatuh pun disesuaikan, jatuh pertama kali aman, jatuh kedua kali aman, BRUKK! Jatuh ketiga kali, salah mengambil teknik jatuh dan salib pun menimpa kepalanya. Saat itu &lt;em&gt;freeze&lt;/em&gt; dan ia merasa saat itu sangat lama, terpikir bagaimana menjadi Yesus yang sesungguhnya, pastilah sangat berat. Selalu teringat pada tujuannya, Nael tetap melanjutkan tugasnya sampai selesai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nael bersyukur saat pementasan sudah selesai. Ia berharap pementasannya dapat menggambarkan bagaimana Yesus menderita sampai wafat di kayu salib, serta menyerahkan sisanya kepada Tuhan dalam menggerakkan hati umat untuk meneladani Yesus sebagai pedoman hidup kita sebagai umat Katolik yang aktif melayani Tuhan. (KT)&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Apa Dan Siapa" />
	</entry>
	<entry>
		<title>Antonius Dedi Sukardi, Karyawan Paroki</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/1315-antonius-dedi-sukardi-karyawan-paroki"/>
		<published>2016-11-24T09:11:12+07:00</published>
		<updated>2016-11-24T09:11:12+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/1315-antonius-dedi-sukardi-karyawan-paroki</id>
		<author>
			<name>Editor</name>
			<email>parokisantamonika@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:22px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Antonius Dedi Sukardi, Karyawan Paroki&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/dedisukardi.jpg&quot; style=&quot;width: 700px; height: 525px;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;DEDI Sukardi sibuk mengutak-atik mobil Corolla lawas milik Romo Aloysius Supandoyo OSC. Bulir-bulir peluh berbaris di keningnya,sementara telapak tangannya berbalur oli. “Awalnya,saya merasa capek karena tambah pekerjaan mengurus mobil Romo... Ternyata, ada hikmahnya,” ungkap pria kelahiran 18 Agustus 1976 ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Dedi mendulang “ilmu” dari Romo Pandoyo. Karena kerap bongkar-pasang mobil, ia jadi tahu banyak ihwal mesin. Alhasil, keinginan untuk membuka usaha bengkel menyeruak di benaknya. Sekitar enam bulan berselang, Dedi mengutarakan rencananya kepada Romo Pandoyo dan Romo Nono.&amp;nbsp; “Tetapi, saya tetap ingin bekerja di sini,” katanya.&amp;nbsp; Kedua romo itu mendukung niat Dedi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Itulah awal mula Dedi merintis jalan menjadi pengusaha bengkel. Sekarang, Bengkel “Restu” miliknya yang berlokasi di Jl. Ciater Barat Serpong telah berkembang. Dalam kurun waktu lima tahun, Bengkel “Restu” berikutnya sudah berdiri di kawasan Nusa Loka BSD. Meski demikian, Dedi tetap setia mengurus rumah tangga pastoran. “Di pastoran, saya tetap nyapu ngepel,” tandasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;Jalan Panjang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
	Dedi telah melintasi waktu lebih dari dua dasawarsa bekerja di Paroki St. Monika Serpong. Setelah memungkasi sekolah di kampung halamannya Kuningan, Jawa Barat, Dedi menyampaikan keinginannya untuk bekerja kepada kakaknya, Paulus Yoyo Yohakim. “Waktu itu, tahun 1994, kakak saya masih frater. Saya dibawa ke Paroki Serpong karena Romo Gandi membutuhkan tenaga,” ungkap warga Lingkungan St. Silverius Jelupang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Saat itu, Paroki St. Monika masih berstatus stasi.&amp;nbsp; Awalnya, Dedi mengerjakan seabrek tugas sendirian; menjadi koster dan mengurus rumah tangga pastoran. Karena belum ada gereja, aula pastoran dijadikan tempat Misa. “Sebelum dan sesudah Misa, saya harus membereskan sekitar 600 kursi,” kenangnya.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	Syukurlah,&amp;nbsp; Dedi menikmati pekerjaannya kendati tanggung jawab yang diembannya berderet.&amp;nbsp; “Saya nyuci baju, menyetrika, nyapu, ngepel, manasin mobil dan motor, sekaligus jadi koster gereja.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Baru setelah gereja berdiri, Dedi melepas tugasnya sebagai koster. “Saya megang pastoran, Yoto megang gereja,” tukasnya. Pekerjaan Dedi bertambah jika ada beberapa pastor sekaligus yang berkarya di Paroki St. Monika. “Pernah ada lima pastor di pastoran. Cucian banyak, semuanya jadi banyak.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Meski pekerjaannya menyedot tenaga, Dedi bisa menikmatinya. “Yang menjadi masalah, romonya ganti-ganti. Pribadi romo yang satu dengan romo yang&amp;nbsp; lain beda-beda,” ujarnya. Namun, tak pernah terbersit keinginan di benaknya untuk beranjak dari pekerjaan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Bulan Keenam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Juni 2010, suami Lilis Siswanti ini mengawali usaha bengkel dengan modal pas-pasan. “Untuk kontrak lahan bengkel saja sudah 35 juta rupiah,” tuturnya.&amp;nbsp; Mulanya, Dedi menggunakan jasa lima montir. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Selama lima bulan pertama, Dedi sama sekali tidak menikmati keuntungan. “Uang itu berputar untuk membeli peralatan, gaji karyawan, serta bayar toko spare parts,” lanjutnya. Baru pada bulan keenam ia mulai mencecap laba.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Seiring bergulirnya waktu, Bengkel “Restu” terus maju. Nyaris tiada kendala yang merintangi Dedi. Jumlah karyawannya pun bertambah; dari lima orang menjadi 17 orang. Dedi pun berupaya membangun kepercayaan para pelanggan.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Dedi menyadari bahwa karyawan bukan robot penghasil uang. Maka, ia berupaya menyejahterakan mereka. “Uang yang didapat merupakan hasil kerja keras kami semua, maka saya memberikan apa yang menjadi hak mereka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Setiap bulan, selain gaji, masing-masing karyawannya yang sudah berumah tangga mendapat 20 kilogram beras, empat dus indomie, dan sabun. “Setiap bulan saya menyisihkan sebagian keuntungan untuk menyiapkan THR. Mereka mendapat THR sejumlah dua kali gaji. Jadi, setiap menjelang Lebaran mereka mendapat tiga kali gaji.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Dedi mengakui gajinya bekerja di gereja tentu tak sebanding dengan perolehannya dari bengkel. “Tapi, jangan mentang-mentang sudah di atas saya jadi lupa dengan yang di bawah. Selama saya masih nyaman bekerja di gereja akan saya jalani sampai kapanpun,” ujarnya bertekad.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Alhasil, tak pernah ada semburat malu menyinggahi batinnya kendati di Paroki St. Monika ia bekerja sebagai pengurus rumah tangga. “Di bengkel saya majikan, di gereja saya tukang sapu,” katanya sembari mengait senyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Tiang nafkah keluarga yang telah kokoh, nyatanya tak kuasa mengubah kesahajaan Dedi. Tak jarang tatkala gulita malam telah bertandang, pria berpostur tegap ini masih sibuk mencuci piring di pastoran. Sementara keceriaan tetap memulasi parasnya yang rupawan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:22px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Antonius Dedi Sukardi, Karyawan Paroki&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/dedisukardi.jpg&quot; style=&quot;width: 700px; height: 525px;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;DEDI Sukardi sibuk mengutak-atik mobil Corolla lawas milik Romo Aloysius Supandoyo OSC. Bulir-bulir peluh berbaris di keningnya,sementara telapak tangannya berbalur oli. “Awalnya,saya merasa capek karena tambah pekerjaan mengurus mobil Romo... Ternyata, ada hikmahnya,” ungkap pria kelahiran 18 Agustus 1976 ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Dedi mendulang “ilmu” dari Romo Pandoyo. Karena kerap bongkar-pasang mobil, ia jadi tahu banyak ihwal mesin. Alhasil, keinginan untuk membuka usaha bengkel menyeruak di benaknya. Sekitar enam bulan berselang, Dedi mengutarakan rencananya kepada Romo Pandoyo dan Romo Nono.&amp;nbsp; “Tetapi, saya tetap ingin bekerja di sini,” katanya.&amp;nbsp; Kedua romo itu mendukung niat Dedi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Itulah awal mula Dedi merintis jalan menjadi pengusaha bengkel. Sekarang, Bengkel “Restu” miliknya yang berlokasi di Jl. Ciater Barat Serpong telah berkembang. Dalam kurun waktu lima tahun, Bengkel “Restu” berikutnya sudah berdiri di kawasan Nusa Loka BSD. Meski demikian, Dedi tetap setia mengurus rumah tangga pastoran. “Di pastoran, saya tetap nyapu ngepel,” tandasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;Jalan Panjang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
	Dedi telah melintasi waktu lebih dari dua dasawarsa bekerja di Paroki St. Monika Serpong. Setelah memungkasi sekolah di kampung halamannya Kuningan, Jawa Barat, Dedi menyampaikan keinginannya untuk bekerja kepada kakaknya, Paulus Yoyo Yohakim. “Waktu itu, tahun 1994, kakak saya masih frater. Saya dibawa ke Paroki Serpong karena Romo Gandi membutuhkan tenaga,” ungkap warga Lingkungan St. Silverius Jelupang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Saat itu, Paroki St. Monika masih berstatus stasi.&amp;nbsp; Awalnya, Dedi mengerjakan seabrek tugas sendirian; menjadi koster dan mengurus rumah tangga pastoran. Karena belum ada gereja, aula pastoran dijadikan tempat Misa. “Sebelum dan sesudah Misa, saya harus membereskan sekitar 600 kursi,” kenangnya.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	Syukurlah,&amp;nbsp; Dedi menikmati pekerjaannya kendati tanggung jawab yang diembannya berderet.&amp;nbsp; “Saya nyuci baju, menyetrika, nyapu, ngepel, manasin mobil dan motor, sekaligus jadi koster gereja.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Baru setelah gereja berdiri, Dedi melepas tugasnya sebagai koster. “Saya megang pastoran, Yoto megang gereja,” tukasnya. Pekerjaan Dedi bertambah jika ada beberapa pastor sekaligus yang berkarya di Paroki St. Monika. “Pernah ada lima pastor di pastoran. Cucian banyak, semuanya jadi banyak.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Meski pekerjaannya menyedot tenaga, Dedi bisa menikmatinya. “Yang menjadi masalah, romonya ganti-ganti. Pribadi romo yang satu dengan romo yang&amp;nbsp; lain beda-beda,” ujarnya. Namun, tak pernah terbersit keinginan di benaknya untuk beranjak dari pekerjaan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Bulan Keenam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Juni 2010, suami Lilis Siswanti ini mengawali usaha bengkel dengan modal pas-pasan. “Untuk kontrak lahan bengkel saja sudah 35 juta rupiah,” tuturnya.&amp;nbsp; Mulanya, Dedi menggunakan jasa lima montir. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Selama lima bulan pertama, Dedi sama sekali tidak menikmati keuntungan. “Uang itu berputar untuk membeli peralatan, gaji karyawan, serta bayar toko spare parts,” lanjutnya. Baru pada bulan keenam ia mulai mencecap laba.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Seiring bergulirnya waktu, Bengkel “Restu” terus maju. Nyaris tiada kendala yang merintangi Dedi. Jumlah karyawannya pun bertambah; dari lima orang menjadi 17 orang. Dedi pun berupaya membangun kepercayaan para pelanggan.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Dedi menyadari bahwa karyawan bukan robot penghasil uang. Maka, ia berupaya menyejahterakan mereka. “Uang yang didapat merupakan hasil kerja keras kami semua, maka saya memberikan apa yang menjadi hak mereka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Setiap bulan, selain gaji, masing-masing karyawannya yang sudah berumah tangga mendapat 20 kilogram beras, empat dus indomie, dan sabun. “Setiap bulan saya menyisihkan sebagian keuntungan untuk menyiapkan THR. Mereka mendapat THR sejumlah dua kali gaji. Jadi, setiap menjelang Lebaran mereka mendapat tiga kali gaji.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Dedi mengakui gajinya bekerja di gereja tentu tak sebanding dengan perolehannya dari bengkel. “Tapi, jangan mentang-mentang sudah di atas saya jadi lupa dengan yang di bawah. Selama saya masih nyaman bekerja di gereja akan saya jalani sampai kapanpun,” ujarnya bertekad.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Alhasil, tak pernah ada semburat malu menyinggahi batinnya kendati di Paroki St. Monika ia bekerja sebagai pengurus rumah tangga. “Di bengkel saya majikan, di gereja saya tukang sapu,” katanya sembari mengait senyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Tiang nafkah keluarga yang telah kokoh, nyatanya tak kuasa mengubah kesahajaan Dedi. Tak jarang tatkala gulita malam telah bertandang, pria berpostur tegap ini masih sibuk mencuci piring di pastoran. Sementara keceriaan tetap memulasi parasnya yang rupawan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</content>
		<category term="Apa Dan Siapa" />
	</entry>
	<entry>
		<title>Agnes Marwoto, Katekis</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/1314-agnes-marwoto-katekis"/>
		<published>2016-11-24T09:06:38+07:00</published>
		<updated>2016-11-24T09:06:38+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/1314-agnes-marwoto-katekis</id>
		<author>
			<name>Editor</name>
			<email>parokisantamonika@gmail.com</email>
		</author>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:22px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Agnes Marwoto, Katekis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/agnesmarwoto.jpg&quot; style=&quot;width: 708px; height: 500px;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;DI hadapan patung Pieta di Gereja Katedral Jakarta,Maria Agnes Sumari Marwoto terbenam dalam doa yang khusyuk. Sementara air matanya menghilir,ia membayangkan betapa berdukanya Bunda Maria tatkala memangku jenazah Sang Putra.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Agnes mengalami sendiri bagaimana pedihnya kehilangan tiga anak; Agustina Hendrawati (35), Edward Eddy Indriadi (42), dan Felix Himawan (49). Namun, menurut Agnes, kepedihan yang dialami Bunda Maria lebih hebat daripada yang ia alami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;“Anak-anak saya tidak terlalu menderita sewaktu menyongsong ajal. Sedangkan Yesus disiksa sampai wafat padahal Ia tidak bersalah,” tuturnya dengan tatapan menerawang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Persamaan pernah kehilangan buah hati, membuat Agnes suka berdoa di depan patung Pieta. “Kalau saya sudah berdoa di depan patung Pieta, beban apa pun terasa ringan,” ungkapnya.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sembilan Anak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Setelah menikah, Agnes mengikuti keyakinan sang suami,&amp;nbsp; Alphonsus Marwoto.&amp;nbsp; Pada tahun 1968 suaminya berpulang. Saat itu, Agnes berusia 39 tahun.&amp;nbsp; “Saya menjanda dengan sembilan anak.”&lt;br /&gt;
	Kepergian sang suami menghentak Agnes. Tiada&amp;nbsp; firasat buruk menelusuk batinnya sebelumnya. “Waktu itu saya sama sekali tidak siap. Anak pertama berusia 18 tahun,sedangkan si bungsu masih dua tahun,” kenangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Kehidupan terus bergulir. Agnes yang bekerja sebagai Kepala SD Negeri di Tanah Abang 5, Jakarta, harus bisa menopang tiang nafkah keluarganya. Menanggung sembilan anak membutuhkan dana yang membuncit. “Dalam sebulan, saya harus beli beras dua kwintal. “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Gaji Agnes kerap tak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangganya. Lantas, ia berupaya mengais rezeki tambahan. Ia mengkreditkan seprai, taplak meja, dan baju ke ke teman-temannya. Malam hari, ia memberi les. “Saya datang ke rumah mereka. Ada empat sampai lima anak,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Gangguan Pria&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Sejak awal menjanda, Agnes bertekad tidak mau menikah lagi. “Saya ingin hidup untuk anak-anak,” tegasnya. Nyatanya, kesepian tak kuasa menyelinap dalam keseharian Agnes.&amp;nbsp; “Rahasianya, sehari setelah suami meninggal pada 28 Maret 1968, setiap pagi saya selalu ikut Misa kecuali saya sakit,” ungkap wanita yang semasa mudanya gemar berolah raga ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Rahasia lainnya, ia aktif mewartakan Kabar Gembira Tuhan.&amp;nbsp; Sejak tahun 1978 hingga sekarang, ia menjadi katekis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;“Sekarang saya mengajar sembilan katekumen di rumah saya setiap Senin, Rabu, Kamis, dan Minggu. Saya yang menyesuaikan dengan waktu senggang mereka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Selama tujuh tahun, 1991-1998, Agnes memimpin retret untuk murid-murid SD sampai SMA di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur. “Akhirnya, saya berhenti karena saya sudah tidak bisa duduk di lantai,” tukasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Sejak pensiun, tahun 1989, Agnes bergabung dalam Legio Maria Presidium Tabut Perjanjian Paroki St. Kristoforus Grogol. Setelah pindah ke BSD, tahun 2012, ia bergabung dengan Presidium Bunda Segala Bangsa Paroki St. Monika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Sudah dua tahun ini Agnes punya kelompok Kitab Suci. Mereka membahas Kitab Suci setiap Rabu pada pukul 07.00-09.00 di Aula Benediktus Paroki St. Monika. Pada tahun pertama, mereka mendalami Injil Lukas. Sekarang mereka mendalami Injil Yohanes. “Saya menjadi pemandu. Yang rutin hadir 20-30 orang.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Kini, Agnes melintasi masa senjanya dengan meningkatkan darasan doa. Ia sengaja memilih rumah yang sejalan dengan Gereja St. Monika.&amp;nbsp; Mewartakan Kabar Gembira Kristus merupakan tekadnya yang senantiasa berpijar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:22px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Agnes Marwoto, Katekis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/agnesmarwoto.jpg&quot; style=&quot;width: 708px; height: 500px;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;DI hadapan patung Pieta di Gereja Katedral Jakarta,Maria Agnes Sumari Marwoto terbenam dalam doa yang khusyuk. Sementara air matanya menghilir,ia membayangkan betapa berdukanya Bunda Maria tatkala memangku jenazah Sang Putra.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Agnes mengalami sendiri bagaimana pedihnya kehilangan tiga anak; Agustina Hendrawati (35), Edward Eddy Indriadi (42), dan Felix Himawan (49). Namun, menurut Agnes, kepedihan yang dialami Bunda Maria lebih hebat daripada yang ia alami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;“Anak-anak saya tidak terlalu menderita sewaktu menyongsong ajal. Sedangkan Yesus disiksa sampai wafat padahal Ia tidak bersalah,” tuturnya dengan tatapan menerawang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Persamaan pernah kehilangan buah hati, membuat Agnes suka berdoa di depan patung Pieta. “Kalau saya sudah berdoa di depan patung Pieta, beban apa pun terasa ringan,” ungkapnya.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sembilan Anak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Setelah menikah, Agnes mengikuti keyakinan sang suami,&amp;nbsp; Alphonsus Marwoto.&amp;nbsp; Pada tahun 1968 suaminya berpulang. Saat itu, Agnes berusia 39 tahun.&amp;nbsp; “Saya menjanda dengan sembilan anak.”&lt;br /&gt;
	Kepergian sang suami menghentak Agnes. Tiada&amp;nbsp; firasat buruk menelusuk batinnya sebelumnya. “Waktu itu saya sama sekali tidak siap. Anak pertama berusia 18 tahun,sedangkan si bungsu masih dua tahun,” kenangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Kehidupan terus bergulir. Agnes yang bekerja sebagai Kepala SD Negeri di Tanah Abang 5, Jakarta, harus bisa menopang tiang nafkah keluarganya. Menanggung sembilan anak membutuhkan dana yang membuncit. “Dalam sebulan, saya harus beli beras dua kwintal. “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Gaji Agnes kerap tak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangganya. Lantas, ia berupaya mengais rezeki tambahan. Ia mengkreditkan seprai, taplak meja, dan baju ke ke teman-temannya. Malam hari, ia memberi les. “Saya datang ke rumah mereka. Ada empat sampai lima anak,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Gangguan Pria&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Sejak awal menjanda, Agnes bertekad tidak mau menikah lagi. “Saya ingin hidup untuk anak-anak,” tegasnya. Nyatanya, kesepian tak kuasa menyelinap dalam keseharian Agnes.&amp;nbsp; “Rahasianya, sehari setelah suami meninggal pada 28 Maret 1968, setiap pagi saya selalu ikut Misa kecuali saya sakit,” ungkap wanita yang semasa mudanya gemar berolah raga ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Rahasia lainnya, ia aktif mewartakan Kabar Gembira Tuhan.&amp;nbsp; Sejak tahun 1978 hingga sekarang, ia menjadi katekis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;“Sekarang saya mengajar sembilan katekumen di rumah saya setiap Senin, Rabu, Kamis, dan Minggu. Saya yang menyesuaikan dengan waktu senggang mereka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Selama tujuh tahun, 1991-1998, Agnes memimpin retret untuk murid-murid SD sampai SMA di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur. “Akhirnya, saya berhenti karena saya sudah tidak bisa duduk di lantai,” tukasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Sejak pensiun, tahun 1989, Agnes bergabung dalam Legio Maria Presidium Tabut Perjanjian Paroki St. Kristoforus Grogol. Setelah pindah ke BSD, tahun 2012, ia bergabung dengan Presidium Bunda Segala Bangsa Paroki St. Monika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Sudah dua tahun ini Agnes punya kelompok Kitab Suci. Mereka membahas Kitab Suci setiap Rabu pada pukul 07.00-09.00 di Aula Benediktus Paroki St. Monika. Pada tahun pertama, mereka mendalami Injil Lukas. Sekarang mereka mendalami Injil Yohanes. “Saya menjadi pemandu. Yang rutin hadir 20-30 orang.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Kini, Agnes melintasi masa senjanya dengan meningkatkan darasan doa. Ia sengaja memilih rumah yang sejalan dengan Gereja St. Monika.&amp;nbsp; Mewartakan Kabar Gembira Kristus merupakan tekadnya yang senantiasa berpijar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
</content>
		<category term="Apa Dan Siapa" />
	</entry>
	<entry>
		<title>Agnes Marwoto, Katekis</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/441-agnes-marwoto-katekis"/>
		<published>2016-11-24T09:06:38+07:00</published>
		<updated>2016-11-24T09:06:38+07:00</updated>
		<id>https://parokiserpong-monika.org/21-apa-dan-siapa/441-agnes-marwoto-katekis</id>
		<summary type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:22px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Agnes Marwoto, Katekis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/agnesmarwoto.jpg&quot; style=&quot;width: 708px; height: 500px;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;DI hadapan patung Pieta di Gereja Katedral Jakarta,Maria Agnes Sumari Marwoto terbenam dalam doa yang khusyuk. Sementara air matanya menghilir,ia membayangkan betapa berdukanya Bunda Maria tatkala memangku jenazah Sang Putra.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Agnes mengalami sendiri bagaimana pedihnya kehilangan tiga anak; Agustina Hendrawati (35), Edward Eddy Indriadi (42), dan Felix Himawan (49). Namun, menurut Agnes, kepedihan yang dialami Bunda Maria lebih hebat daripada yang ia alami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;“Anak-anak saya tidak terlalu menderita sewaktu menyongsong ajal. Sedangkan Yesus disiksa sampai wafat padahal Ia tidak bersalah,” tuturnya dengan tatapan menerawang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Persamaan pernah kehilangan buah hati, membuat Agnes suka berdoa di depan patung Pieta. “Kalau saya sudah berdoa di depan patung Pieta, beban apa pun terasa ringan,” ungkapnya.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sembilan Anak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Setelah menikah, Agnes mengikuti keyakinan sang suami,&amp;nbsp; Alphonsus Marwoto.&amp;nbsp; Pada tahun 1968 suaminya berpulang. Saat itu, Agnes berusia 39 tahun.&amp;nbsp; “Saya menjanda dengan sembilan anak.”&lt;br /&gt;
	Kepergian sang suami menghentak Agnes. Tiada&amp;nbsp; firasat buruk menelusuk batinnya sebelumnya. “Waktu itu saya sama sekali tidak siap. Anak pertama berusia 18 tahun,sedangkan si bungsu masih dua tahun,” kenangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Kehidupan terus bergulir. Agnes yang bekerja sebagai Kepala SD Negeri di Tanah Abang 5, Jakarta, harus bisa menopang tiang nafkah keluarganya. Menanggung sembilan anak membutuhkan dana yang membuncit. “Dalam sebulan, saya harus beli beras dua kwintal. “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Gaji Agnes kerap tak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangganya. Lantas, ia berupaya mengais rezeki tambahan. Ia mengkreditkan seprai, taplak meja, dan baju ke ke teman-temannya. Malam hari, ia memberi les. “Saya datang ke rumah mereka. Ada empat sampai lima anak,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Gangguan Pria&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Sejak awal menjanda, Agnes bertekad tidak mau menikah lagi. “Saya ingin hidup untuk anak-anak,” tegasnya. Nyatanya, kesepian tak kuasa menyelinap dalam keseharian Agnes.&amp;nbsp; “Rahasianya, sehari setelah suami meninggal pada 28 Maret 1968, setiap pagi saya selalu ikut Misa kecuali saya sakit,” ungkap wanita yang semasa mudanya gemar berolah raga ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Rahasia lainnya, ia aktif mewartakan Kabar Gembira Tuhan.&amp;nbsp; Sejak tahun 1978 hingga sekarang, ia menjadi katekis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;“Sekarang saya mengajar sembilan katekumen di rumah saya setiap Senin, Rabu, Kamis, dan Minggu. Saya yang menyesuaikan dengan waktu senggang mereka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Selama tujuh tahun, 1991-1998, Agnes memimpin retret untuk murid-murid SD sampai SMA di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur. “Akhirnya, saya berhenti karena saya sudah tidak bisa duduk di lantai,” tukasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Sejak pensiun, tahun 1989, Agnes bergabung dalam Legio Maria Presidium Tabut Perjanjian Paroki St. Kristoforus Grogol. Setelah pindah ke BSD, tahun 2012, ia bergabung dengan Presidium Bunda Segala Bangsa Paroki St. Monika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Sudah dua tahun ini Agnes punya kelompok Kitab Suci. Mereka membahas Kitab Suci setiap Rabu pada pukul 07.00-09.00 di Aula Benediktus Paroki St. Monika. Pada tahun pertama, mereka mendalami Injil Lukas. Sekarang mereka mendalami Injil Yohanes. “Saya menjadi pemandu. Yang rutin hadir 20-30 orang.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Kini, Agnes melintasi masa senjanya dengan meningkatkan darasan doa. Ia sengaja memilih rumah yang sejalan dengan Gereja St. Monika.&amp;nbsp; Mewartakan Kabar Gembira Kristus merupakan tekadnya yang senantiasa berpijar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</summary>
		<content type="html">&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:22px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Agnes Marwoto, Katekis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
	&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;https://parokiserpong-monika.org/images/stories/apadansiapa/agnesmarwoto.jpg&quot; style=&quot;width: 708px; height: 500px;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;DI hadapan patung Pieta di Gereja Katedral Jakarta,Maria Agnes Sumari Marwoto terbenam dalam doa yang khusyuk. Sementara air matanya menghilir,ia membayangkan betapa berdukanya Bunda Maria tatkala memangku jenazah Sang Putra.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Agnes mengalami sendiri bagaimana pedihnya kehilangan tiga anak; Agustina Hendrawati (35), Edward Eddy Indriadi (42), dan Felix Himawan (49). Namun, menurut Agnes, kepedihan yang dialami Bunda Maria lebih hebat daripada yang ia alami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;“Anak-anak saya tidak terlalu menderita sewaktu menyongsong ajal. Sedangkan Yesus disiksa sampai wafat padahal Ia tidak bersalah,” tuturnya dengan tatapan menerawang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Persamaan pernah kehilangan buah hati, membuat Agnes suka berdoa di depan patung Pieta. “Kalau saya sudah berdoa di depan patung Pieta, beban apa pun terasa ringan,” ungkapnya.&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sembilan Anak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Setelah menikah, Agnes mengikuti keyakinan sang suami,&amp;nbsp; Alphonsus Marwoto.&amp;nbsp; Pada tahun 1968 suaminya berpulang. Saat itu, Agnes berusia 39 tahun.&amp;nbsp; “Saya menjanda dengan sembilan anak.”&lt;br /&gt;
	Kepergian sang suami menghentak Agnes. Tiada&amp;nbsp; firasat buruk menelusuk batinnya sebelumnya. “Waktu itu saya sama sekali tidak siap. Anak pertama berusia 18 tahun,sedangkan si bungsu masih dua tahun,” kenangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Kehidupan terus bergulir. Agnes yang bekerja sebagai Kepala SD Negeri di Tanah Abang 5, Jakarta, harus bisa menopang tiang nafkah keluarganya. Menanggung sembilan anak membutuhkan dana yang membuncit. “Dalam sebulan, saya harus beli beras dua kwintal. “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Gaji Agnes kerap tak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangganya. Lantas, ia berupaya mengais rezeki tambahan. Ia mengkreditkan seprai, taplak meja, dan baju ke ke teman-temannya. Malam hari, ia memberi les. “Saya datang ke rumah mereka. Ada empat sampai lima anak,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:20px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Gangguan Pria&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	Sejak awal menjanda, Agnes bertekad tidak mau menikah lagi. “Saya ingin hidup untuk anak-anak,” tegasnya. Nyatanya, kesepian tak kuasa menyelinap dalam keseharian Agnes.&amp;nbsp; “Rahasianya, sehari setelah suami meninggal pada 28 Maret 1968, setiap pagi saya selalu ikut Misa kecuali saya sakit,” ungkap wanita yang semasa mudanya gemar berolah raga ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Rahasia lainnya, ia aktif mewartakan Kabar Gembira Tuhan.&amp;nbsp; Sejak tahun 1978 hingga sekarang, ia menjadi katekis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;“Sekarang saya mengajar sembilan katekumen di rumah saya setiap Senin, Rabu, Kamis, dan Minggu. Saya yang menyesuaikan dengan waktu senggang mereka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Selama tujuh tahun, 1991-1998, Agnes memimpin retret untuk murid-murid SD sampai SMA di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur. “Akhirnya, saya berhenti karena saya sudah tidak bisa duduk di lantai,” tukasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Sejak pensiun, tahun 1989, Agnes bergabung dalam Legio Maria Presidium Tabut Perjanjian Paroki St. Kristoforus Grogol. Setelah pindah ke BSD, tahun 2012, ia bergabung dengan Presidium Bunda Segala Bangsa Paroki St. Monika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Sudah dua tahun ini Agnes punya kelompok Kitab Suci. Mereka membahas Kitab Suci setiap Rabu pada pukul 07.00-09.00 di Aula Benediktus Paroki St. Monika. Pada tahun pertama, mereka mendalami Injil Lukas. Sekarang mereka mendalami Injil Yohanes. “Saya menjadi pemandu. Yang rutin hadir 20-30 orang.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&lt;span style=&quot;font-size:16px;&quot;&gt;Kini, Agnes melintasi masa senjanya dengan meningkatkan darasan doa. Ia sengaja memilih rumah yang sejalan dengan Gereja St. Monika.&amp;nbsp; Mewartakan Kabar Gembira Kristus merupakan tekadnya yang senantiasa berpijar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
	&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</content>
		<category term="Apa Dan Siapa" />
	</entry>
</feed>
